*PERPADUAN TAUBAT DAN MUQARABAH ADALAH KONSEP KEHIDUPAN IDEAL SEORANG MUSLIM



*Prof.Asasriwarni MH*

*_A. Taubat :_*


Di antara perintah Allah SWT  kepada hamba Nya adalah perintah untuk bertaubat. Taubat adalah jalan yang ditunjukkan oleh Allah SWT sebagai sarana agar para hamba Nya memperbaiki diri atas dosa, maksiat, dan kesalahan yang telah mereka perbuat. Sebagaimana firnan Allah SWT dalam sebuah ayat berikut ini :  


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا


*Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuhaa (taubat yang semurni-murninya)*  (QS.  At-Tahrim Ayat : 8).


Oleh karena itu, taubat merupakan ibadah yang sangat agung dan memiliki banyak keutamaan. Lalu, apa maksud taubat  sebagaimana yang Allah SWT perintahkan dalam ayat tetsebut  di atas ?


*1. Makna Pertama Adalah Taubat yang Murni (Ikhlas) dan Jujur :*


Secara bahasa :  نصح (na-sha-kha) artinya sesuatu yang bersih atau murni (tidak bercampur dengan sesuatu yang lain). Sesuatu disebut (الناصح) (an-naashikh), jika sesuatu tersebut tidak bercampur atau tidak terkontaminasi dengan sesuatu yang lain, misalnya madu murni atau sejenisnya. Di antara turunan kata نصح adalah  النصيحة(an-nashiihah (Lihat Lisaanul ‘Arab, 2/615-617).


Berdasarkan makna bahasa ini, taubat disebut dengan taubat nasuha jika pelaku taubat tersebut memurnikan, ikhlas (hanya semata-mata untuk Allah), dan jujur dalam taubatnya. Dia mencurahkan segala daya dan kekuatannya untuk menyesali dosa-dosa yang telah diperbuat dengan taubat yang benar (jujur).


Ibnu Katsir Rahimahullah berkata,  ketika menjelaskan ayat tersebut  di atas adalah : 


أَيْ تَوْبَةً صَادِقَةً جَازِمَةً تَمْحُو مَا قَبْلَهَا مِنَ السَّيِّئَاتِ، وَتَلُمُّ شَعَثَ التَّائِبِ وَتَجْمَعُهُ وَتَكُفُّهُ عَمَّا كَانَ يَتَعَاطَاهُ مِنَ الدَّنَاءَاتِ.


*Yaitu taubat yang jujur, yang didasari atas tekad yang kuat, yang menghapus kejelekan-kejelekan di masa silam, yang menghimpun dan mengentaskan pelakunya dari kehinaan* (Tafsir Al-Qur’anul ‘Adzim, 4/191).


Selanjutnya juga dijelaskan sbb :  


صَادِقَة بِأَنْ لَا يُعَاد إلَى الذَّنْب وَلَا يُرَاد الْعَوْد إلَيْهِ


*Taubat yang jujur, yaitu dia tidak kembali (melakukan) dosa dan tidak bermaksud mengulanginya* (Tafsir Jalalain, 1/753).


Kemuduan, Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata sbb :


فَالنُّصْحُ فِي التَّوْبَةِ وَالْعِبَادَةِ وَالْمَشُورَةِ تَخْلِيصُهَا مِنْ كُلِّ غِشٍّ وَنَقْصٍ وَفَسَادٍ، وَإِيقَاعُهَا عَلَى أَكْمَلِ الْوُجُوهِ


*An-nush-khu dalam taubat, ibadah, dan nasihat artinya memurnikan perkara-perkara tersebut dari semua kotoran, kekurangan, dan kerusakan. Seseorang melaksanakannya dalam bentuk yang paling sempurna*  (Madaarijus Saalikiin, 1/309-310).


Taubat nasuha ini akan terasa pengaruhnya bagi pelakunya, sehingga  orang lain pun kemudian ikut mendoakan kebaikan untuknya.


Seperti apa yang disampaikan oleh Al-Alusi Rahimahullah, yakni :  


وجوز أن يراد توبة تنصح الناس أي تدعوهم إلى مثلها لظهور أثرها في صاحبها، واستعمال الجد والعزيمة في العمل بمقتضياتها


*Taubat nasuha boleh juga dimaknai dengan taubat yang mendatangkan doa dari manusia. Artinya, manusia mendoakannya untuk bertaubat, sehingga tampaklah pengaruh taubat tersebut bagi pelakunya. Pelakunya pun mencurahkan kesungguhan dan tekad untuk melaksanakan konsekuensi dari taubatnya*  (Ruuhul Ma’aani, 28/158).


*2. Makna Ke Dua Adalah Taubat yang Memperbaiki Kerusakan Dalam Agama Akibat Perbuatan Maksiat :*


Penulis ‘Umdatul Qari menjelaskan, bahwa : 


وأصل النَّصِيحَة مَأْخُوذ من نصح الرجل ثَوْبه إِذا خاطه بالمنصح


*Adapun makna asal dari ‘nashihah’ diambil dari seseorang yang menjahit pakaiannya, ketika dia menyulam pakaiannya dengan jarum* (‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 1/321)


Beliau Rahimahullah kemudian melanjutkan dengan mengatakan, bahwa :


وَمِنْه التَّوْبَة النصوح، كَأَن الذَّنب يمزق الدّين وَالتَّوْبَة تخيطه


*(Dari kata nashihah tersebut) muncullah istilah ‘taubat nasuha’. Seakan-akan dosa (maksiat) telah merobek agama (seseorang), dan taubatlah yang menjahit kembali (robekan tersebut)* (‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 1/321).


Al-Qurthubi Rahimahullah berkata, bahwa : 


وقيل: هي مأخوذة من النصاحة وهي الخياطة. وفي أخذها منها وجهان: أحدهما- لأنها توبة قد أحكمت طاعته وأوثقتها كما يحكم الخياط الثوب بخياطته ويوثقه


*Dikatakan, (taubat nasuha) diambil dari kata ‘an-nashahah’, yaitu ‘jahitan’. Berdasarkan asal kata tersebut, terdapat dua sisi (makna) dari taubat nasuha. Pertama, karena taubat tersebut telah memperbaiki ketaatan dan menguatkannya. Sebagaimana jahitan yang memperbaiki pakaian dan menguatkannya* (Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an, 18/199).


Berdasarkan makna secara bahasa tersebut6 di atas,  maka pelaku taubat nasuha telah menyempurnakan taubatnya dan memperkuat taubatnya dengan melaksanakan berbagai macam amal ketaatan. Hal ini sebagaimana jahitan yang menyempurnakan (memperbaiki) pakaian, menguatkan, dan merapikannya.


Selanjutnta, Al-Alusi rahimahullah berkata, bahwa : 


وسميت التوبة نصوحا : أي توبة ترفو خروقك في دينك وترم خللك


*Disebut dengan taubat nasuha, yaitu taubat yang memperbaiki robekan (lubang) dalam agamamu dan memperbaiki keburukanmu*  (Ruuhul Ma’aani, 28/157-158).


Dilanjutkan dengan Abu Ishaq Rahimahullah yang   mengatakan,  bahwa : 


بَالِغَة فِي النصح وَهِي الْخياطَة كَانَ الْعِصْيَان يخرق وَالتَّوْبَة ترفع


*Taubat nasuha adalah taubat yang mencapai puncak kesempurnaan (yang dilaksanakan semaksimal mungkin). Taubat ini (sejenis dengan) pekerjaan menjahit. Seakan-akan maksiat telah merobek (agama), dan taubatlah dengan menambal (menjahit atau memperbaikinya)* (‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 22/280).


Kemudian dipertegas oleh Al-Qurthubi Rahimahullah menjelaskan sisi yang lain istilah taubat nasuha sesuai dengan makna bahasa di atas. Beliau Rahimahullah berkata, bahwa : 


والثاني- لأنها قد جمعت بينه وبين أولياء الله وألصقته بهم، كما يجمع الخياط الثوب ويلصق بعضه ببعض.


*Sisi yang ke dua, karena taubat nasuha mengumpulkan antara pelakunya dengan wali-wali Allah, dan merekatkannya. Hal ini sebagaimana jahitan yang merekatkan pakaian dan menyambung antara sisi (kain) yang satu dengan sisi lainnya*  (Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an, 18/199).


*_B. Muraqabah :_*


Muraqabah merupakan suatu kondisi di mana jiwa seseorang merasakan bahwa dirinya adalah  seorang hamba yang keberadaannya senantiasa dalam pengawasan  Allah SWT.


Muraqabah tak hanya dilakukan untuk meraih ketenangan hati, namun juga sebagai bentuk penghambaan seorang mahluk kepada  Penciptanya (Allah SWT).  Dalam beberapa hal, muraqabah dilakukan untuk mencapai kondisi spiritual tertinggi, yakni ikhsan.


Dalam Hadis Arbain Imam Nawawi menjelaskan tentang   ikhsan. Seperti yang Rasulullah SAW  terangkan kepada  seseorang yang bertanya kepadanya, yakni : *_hendaknya engkau beribadah kepada Allah SWT seolah-olah engkau melihat Nya. Namun jika engkau tidak mampu beribadah seolah-olah engkau melihat Nya, maka sesungguhnya Ia melihat engkau_*


Apa yang disampaikan oleh Iman Nawawi tersebut di atas adalah mengacu kepada dialog antara Rasulullah SAW dengan Jibril  tentang : Islam, Iman,  Ikhsan dan Kiamat dalam sebuah hadits berikut ini :  


عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِم 


*Umar bin Khathab RA. berkata : Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasulullah SAW. Tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : _(1) Hai, Muhammad,  Beritahukan kepadaku tentang ISLAM !_. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab : Islam adalah engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya.  Lelaki itu berkata : Engkau benar, maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya. _(2)Kemudian ia bertanya lagi : Beritahukan kepadaku tentang IMAN  !_. Nabi menjawab : Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat Nya,  kitab-kitab Nya, para Rasul Nya,  hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk.  Ia berkata :  Engkau benar. _(3) Dia bertanya lagi : Beritahukan kepadaku tentang IKHSAN !_.  Nabi SAW menjawab : Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Nya. Kalaupun engkau tidak melihat Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. _(4) Lelaki itu berkata lagi : Beritahukan kepadaku kapan terjadi KIAMAT ?_. Nabi menjawab : Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya. Dia pun bertanya lagi : Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya ! Nabi menjawab : Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya.  Jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi. Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : Wahai, Umar ! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi ? Aku menjawab : Allah dan Rasul Nya yang lebih mengetahui.  Beliau bersabda : Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian* (HR.  Muslim No : 8;  Imam Ahmad I/27,28,51,52; Abu Dawud No. 4695; Tirmidzi No.2610; An-Nasaa-i VIII/97;  Ibnu Majah No. 63; Bukhari dalam bab suila jibril No: 50); dan  Ibnu Khuzaimah No.2504 dari sahabat Ibnu ‘Umar dari bapaknya ‘Umar bin Khaththab)


Lalu, bagaimana jika kita ingin mencapai kondisi muraqabah ? Menurut *Syekh Abdul Qadir Jailani* : muraqabah dapat dilakukan dalam empat aspek, yakni : (1) Mengetahui dan mengenal Allah; (2) Mengetahui akan adanya musuh, seperti iblis dan setan; (3) Mengetahui kapasitas jiwa diri sendiri dan waspada kepada diri sendiri; dan (4) Mengetahui  perbuatan apa yang bisa dilakukan untuk Allah.


Beberapa ulama terdahulu mencontohkan beberapa bentuk meditasi dalam Islam yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan, seperti :  ibadah, doa dan zikir. *Imam Al-Ghazali*  merekomendasikan empat praktek meditasi yang bisa dilakukan sehari-hari atau _al-watha’if al-arba’ah_, yakni :  (1) Memohon kepada Allah (doa); (2)  Selalu mengingat Allah (zikir); (3) Membaca Al-Qur’an (qira’at); dan (4)  Melakukan renungan yang mendalam (fikr). Keempat hal tersebut dilakukan secara sadar dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.


*_C. Kesimpulan :_*


*_Taubat_*  itu merupakan bentuk penyesalan seseorang secara sungguh-sungguh atas semua perbuatan maksiat yang telah dilakukan pada masa lalu disertai dengan permohonan ampun dan berniat tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut pada saat sekarang mapun di masa yang akan datang. Oleh karena itu, untuk bisa  dikategorikan bertaubat apabila di dalamnya  terdapat empat unsur penting yang harus terpenuhi,  yaitu : penyesalan secara sungguh-sungguh,  segera menghentikan perbuatan maksiat, memohon ampunan kepada Allah SWT, dan tekad kuat untuk tidak mengulangi lagi perbuatan tersebut di masa yang akan datang.


 Sedangkan *_Muqarabah_* adalah suatu kondisi di mana jiwa seseorang telah merasakan bahwa dirinya adalah  seorang hamba yang keberadaannya senantiasa dalam pengawasan  Allah SWT. Muraqabah tidak hanya dilakukan untuk meraih ketenangan hati, namun juga sebagai bentuk penghambaan seorang mahluk kepada  Penciptanya, yakni Allah SWT. Dalam beberapa hal, muraqabah dilakukan untuk mencapai kondisi spiritual tertinggi, yakni ikhsan. Dalam Hadis Arbain Imam Nawawi menjelaskan tentang   ikhsan. Seperti yang Rasulullah SAW  terangkan kepada  seseorang yang bertanya kepadanya, yakni : *_hendaknya engkau beribadah kepada Allah SWT seolah-olah engkau melihat Nya. Namun jika engkau tidak mampu beribadah seolah-olah engkau melihat Nya, maka sesungguhnya Ia melihat engkau_*


Seseorang yang  secara sungguh-sungguh telah menyesali semua perbuatan maksiat yang telah dia lakukan pada  masa lalu, memohon ampunan,  berjanji untuk tidak melakukan perbuatan maksiat lagi, serta menetapi janjinya kepada Allah SWT yang kita kenal dengan istilah *_TAUBAT_*. Itu semua dilakukan, karena di dalam hatinya telah tertanam cahaya spiritual tertinggi yang kita kenal  dengan istilah *_IKHSAN_*.  Sehingga ia    sadar bahwa semua sikap dan perilakunya senantiasa dalam pengawasan Allah SWT. Hal ini lah yang memotivasi dia selalu berbuat yang ma'ruf dan meninggalkan yang mungkar. Itulah yang dinamakan dengan *_KEHIDUPAN IDEAL BAGI SEORANG MUSLIM_*


Semoga renungan ini membawa manfaat dan berkah bagi kita semua, aamiin YRA

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang