BATAS DITERIMANYA TAUBAT SEORANG MAHLUK OLEH SANG KHALIKNYA


Oleh : Prof.Asasriwarni MH


Allah SWT selalu membuka pintu taubat yang selebar-lebarnya bagi semua umat manusia.  Allah SWT  selalu memberi kesempatan kepada hamba-hamba Nya yang akan kembali. Dan Allah SWT juga selalu membuka pintu taubat walau sebesar apapun dan sebanyak apapun  dosa yang telah dilakukan oleh hamba Nya. 


Namun Alquran telah menceritakan kisah seseorang yang tidak diterima taubatnya,  Mengapa ? Apakah ada batas waktu yang ditetapkan untuk diterimanya taubat seseong umat ?


Mungkin kita pernah mendengar kisah Fir'aun yang *_hendak bertaubat ketika ruhnya telah sampai ke tenggorokan_*,   kemudian Allah SWT  Berfirman sbb : 


آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ


*Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan*  (QS. Yunus Ayat : 91).


Memang Allah SWT selalu memberi kesempatan kepada hamba Nya yang mau bertaubat dan kembali, namun *_ada batas waktu untuk penerimaan taubat_* itu.  Fir'aun dengan segala kesombongannya hendak beriman kepada Allah SWT di saat ruhnya telah sampai di tenggorokan dan air laut hampir menenggelamkannya. Saat itu juga Allah SWT  menolak taubat Fir'aun.


Mengapa ? Karena batas diterimanya taubat adalah *_HINGGA RUH MENCAPAI TENGGOROKAN_*. Rasulullah SAW pun pernah  bersabda dalam sebuah hadits berikut ini : 


إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ.


*Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, _SELAMA (RUH) BELUM SAMPAI DI TENGGOROKAN_* (HR.  Tarmidzi No. 3537, Al Hakim IV/257, dan Ibnu Majah No. 4253)


Selanjutnya Dari Abu Musa ‘Abdullah bin Qais Al Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah SAW bersabda sbb :


إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا.


*Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu membuka tangan Nya di waktu malam untuk menerima taubat orang yang melakukan kesalahan di siang hari, dan Allah membuka tangan Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang melakukan kesalahan di malam hari. Begitulah  _HINGGA MATAHARI TERBIT DARI BARAT_* (HR. Muslim No. 2759)


Mungkin kita kembali bertanya, kenapa Allah tidak menerima taubatnya sementara ia masih hidup ?  *_Karena calon mayat yang telah sampai kepada Sakarotul Maut, di saat ruh telah mencapai tenggorokannya, ia telah menyaksikan dahsyatnya kematian. Hamba ini melihat sesuatu yang tidak dilihat orang di  sekitarnya_*. Di saat itulah Allah SWT menutup pintu taubat baginya karena ia telah melihat hakikat kehidupan yang sebenarnya.


Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam sebuah ayat berikut ini : 


وَلَيۡسَتِ ٱلتَّوۡبَةُ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ إِنِّى تُبۡتُ ٱلۡـَٰٔنَ وَلَا ٱلَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمۡ كُفَّارٌ ۚ أُوْلَٰٓئِكَ أَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمًا


*Dan taubat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan _HINGGA APABILA  DATANG AJAL_ kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan : Saya benar-benar bertaubat sekarang. Dan tidak (pula diterima taubat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih* (QS. An Nisa Ayat : 18)


Begitu besar sifat rahman dan rahim Nya hingga memberi kesempatan kepada hamba Nya yang berlumuran dosa *_HINGGA KEMATIAN MENGHAMPIRINYA_*. Namun yang perlu kita renungkan adalah *_kita tidak pernah tahu kapan ajal itu akan datang_*.


Ketika kita akan melakukan maksiat, cobalah berpikir :  *_Bagaimana jika setelah ini kita mati dan belum sempat bertaubat ?_*.  Karena itu, jangan pernah menunda taubat !  Jika kita terkalahkan oleh hawa nafsu, maka seketika itu segeralah bertaubat.  Karena setan akan selalu berupaya agar kita melupakan dosa dan melalaikan taubat.


Taubat adalah taufik yang diberikan Allah SWT kepada hamba Nya. Tidak sembarang orang mampu dan mendapat kesempatan untuk  bertaubat. Banyak yang cenderung meremehkan dosa karena ia menganggap perbuatannya hanyalah dosa kecil yang tak ada nilainya.


Jangan pernah remehkan dosa sekecil apapun, karena yang sedang kita langgar adalah Allah SWT,  Sang Penguasa alam semesta. Dan ketahuilah bahwa dosa kecil yang diremehkan adalah termasuk dalam kategori dosa besar.


Tulisan singkat ini  ditutup dengan konsep indah dari Rasulullah SAW, yakni : 


إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ


*Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya* (HR. Bukhari No. 6308)

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang