INGATLAH SELALU KEPADA KU, NISCAYA AKU PUN AKAN SELALU INGAT KEPADA MU !!!


*Prof.Asasriwarni MH*


Tokoh terbesar yang  menjadi panutan bagi  setiap  muslim dalam menggapai ridha Allah SWT  dalam kehidupannya adalah Rasulullah SAW. Sebagaimana firnan Allah SWT dalam sebuah ayat berikut ini : 


لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا


*Sungguh, _telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah_ dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah* (QS. Al Ahzab Ayat : 21)


Dengan mengacu kepada  ayat tersebut,  Ibnu Qayyim berkata :  *Rasulullah SAW senantiasa berdzikir kepada Allah SWT. Nafasnya, perkataannya dan segala perilakunya adalah dzikir kepada Allah SWT*


Beliau berdzikir kepada Allah di saat berdiri, duduk, maupun rebahan. Beliau tidak pernah bergerak melainkan berdzikir kepada Allah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam ayat berikut ini : 


وَٱذْكُر رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ ٱلْجَهْرِ مِنَ ٱلْقَوْلِ بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْغَٰفِلِينَ


*Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan _rasa takut (khifah)_, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai* (QS. Al A'raf Ayat : 205)


Selanjutnya Allah SWT juga berfirman dalam sebuah ayat berikut ini :


ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ


*Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan _suara yang lembut (khufyah)_. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas* (QS. Al A'raf Ayat : 55)


Mari coba kita perhatikan apa yang telah Allah firmankan dalam ayat-ayat tersebut di atas. Allah SWT  menggunakan : (1) kata  *_khifah_*  dalam konteks dzikir  (QS. Al A'raf Ayat : 205) dan (2) kata *_khufyah_*  dalam konteks do'a  (QS. Al A’raf Ayat : 55).


Menurut Ibnu Taimiyyah : Allah menggunakan kata *khifah* (takut) dalam konteks dzikir dan kata *khufyah* (suara pelan atau lembut) dalam konteks doa karena : 


1. Dzikir bisa membuat hati kita lega dan bahagia. Namun sebaliknya,  dzikir bisa jadi menyebabkan seorang hamba menjadi lalai kepada Allah. Oleh karena itu,  Allah SWT mengharuskannya takut kepada-Nya *(khifah)*, dan


2. Doa merupakan nikmat agung yang dianugerahkan oleh Allah kepada semua hamba Nya. Sehingga  dikhawatirkan akan ada orang yang dengki terhadap orang yang sedang memanjatkan do'a. Oleh karena itu,  Allah SWT  memerintahkannya untuk berdoa kepada Allah dengan suara lirih dan lembut *(khufyah)*. 


Berkaitan dengan hal itu, Allah SWT berfirman sbb : 


فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ


*Karena itu, ingatlah kamu kepada Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) Ku* (QS. Al Baqarah Ayat : 152)


Selanjutnya  Rasulullah SAW bersabda sbb : 


مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأٍ، ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ


*Barang siapa mengingat Ku (Allah) dalam hatinya, maka Aku akan mengingatinya di sisi Ku. Dan barang siapa mengingat Ku di dalam sekelompok orang, maka Aku akan mengingatnya dalam sekelompok makhluk yang lebih mulia dari pada mereka* (HR. Bukhari No. 7405 dan Muslim No. 2675).


Dalam hadits  Qudsi  diriwayatkan bahwa,  Allah SWT berfirman : *Aku adalah teman orang yang berdzikir kepada Ku*


Merujuk hal itu,  seorang ulama salaf pernah berkata :  *Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui kapan Allah mengingatiku* 


Lalu orang-orang bertanya kepada Ulama Salaf itu sbb :   *Kapankah itu ?*


Jawab Ulama Salaf : *Yaitu apabila aku berdzikir kepada-Nya. Bukankah Dia  telah berfirman :  Maka ingatlah Aku, niscaya Aku pun mengingatmu* (QS. Al Baqarah Ayat : 152).


Selanjutnya Allah SWT juga berfirman dalam ayat lain,  yakni : 


ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ


*(yaitu) orang-orang yang beriman dan _hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah_. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram* (QS. Ar Ra'ad Ayat : 28)


Ada seorang Ulama Salaf  mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dzikir dalam ayat ini adalah :  *dzikir secara umum*.  Dan pendapat kedua ini lah *Insya Allah yang benar karena dengan dzikir, hati bisa menjadi tenang dari ketakutan, kegelisahan, keresahan dan kegalauan*. Hati tidak akan bisa menjadi tenang,  melainkan hanya pada saat kita  ingat kepada Allah yang Maha Hidup.


Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam sebuah ayat berikut ini : 


إِنَّ ٱلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَٰتِ وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلْخَٰشِعِينَ وَٱلْخَٰشِعَٰتِ وَٱلْمُتَصَدِّقِينَ وَٱلْمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلْحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَٱلْحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا


*Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, _laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar_* (QS. Al Ahzab Ayat : 35)


Selanjut dalam menanggapi ayat tersebut, Ibnu Shalah berkata : *Barang siapa senantiasa berdzikir kepada Allah di kala pagi dan sore, setiap selesai shalat, dan pada setiap waktu, maka ia termasuk orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah*


Kemudian, Ibnu Abbas RA berkata : *Orang yang banyak berdzikir adalah orang yang senantiasa berdzikir di kala berdiri maupun duduk, saat di rumah maupun bepergian, dan di kala sehat maupun sakit*


Demikuan juga,  Ibnu Taimiyah juga   berpendapat bahwa :  *orang yang banyak berdzikir adalah orang yang lisannya tiada pernah kering karena senantiasa menyebut nama Allah* sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abdullah bin Busar. Abdullah bertanya kepada Rasulullah :  *Wahai Rasulullah  syariat-syariat Islam itu banyak sekali menurutku. Maka tunjukkanlah aku kepada suatu amalan yang bisa aku jadikan pegangan*.  Rasulullah SAW menjawab :  *Hendaklah lidahmu senantiasa basah karena menyebut Allah SWT*


Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam sebuah ayat berikut ini : 


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ  . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


*Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) _orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi_ (seraya berkata):  Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka* (QS. Ali Imran Ayat : 190-191)


Selanjutnya Allah SWT juga  berfirman sbb : 


اُتۡلُ مَاۤ اُوۡحِىَ اِلَيۡكَ مِنَ الۡكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ ‌ؕ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنۡهٰى عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَالۡمُنۡكَرِ‌ؕ وَلَذِكۡرُ اللّٰهِ اَكۡبَرُ ‌ؕ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ


*Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. _Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan_* (QS. Al Ankabut Ayat : 45)


Merujuk kepada ayat tersebut, Ibnu Taimiyyah berkata : *bahwa kebanyakan ahli tafsir salah dalam memahami maksud dari ayat ini. Maksud dari ayat ini adalah bahwa shalat mempunyai dua manfaat, yakni :  _Pertama_,  shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar ; Dan _Kedua_, di dalam shalat terdapat bacaan dzikir kepada Allah. Oleh karena itu,   Ibnu Taimiyyah berkata :  berdzikir kepada Allah di dalam shalat jauh lebih utama daripada shalat yang mencegah dari perbuatan keji dan mungkar*


Dalam shahih Bukhari yang diriwayatkan dari Abu Musa RA bahwa,  Rasulullah SAW pernah bersabda :  


 عن أبى موسى رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَيَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ


*Perumpamaan orang-orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak mau berdzikir adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati* (HR. Bukhari No. 6407).


Dalam shahih Muslim yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya : 


وعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – : (( سَبَقَ المُفَرِّدُونَ )) قالوا : وَمَا المُفَرِّدُونَ ؟ يَا رسولَ الله قَالَ: (( الذَّاكِرُونََ اللهَ كثيراً والذَّاكِرَاتِ )) . رواه مسلم.


وَرُوي : (( المُفَرِّدُونَ )) بتشديد الراءِ وتخفيفها والمشهُورُ الَّذِي قَالَهُ الجمهُورُ : التَّشْديدُ


*Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Telah mendahului al-mufarridun (orang-orang yang menyendiri dalam ibadah). Para sahabat bertanya : Siapakah al-mufarridun itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab: _Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah_*   (HR. Muslim No. 2626)


Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA bahwa,  Rasulullah SAW bersabda : 


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ إِلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْهُ


*Dari Abu Hurairah radliallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: _Barang siapa yang membaca laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariika lahuu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa alaa kulli syaiin qadir_ (tidak ada ilah (yang berhaq disembah) selain Allah Yang Maha Tunggal tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)  _sebanyak seratus kali dalam sehari_,  maka _baginya mendapatkan pahala seperti membebaskan sepuluh orang budak_, _dan ditetapkan baginya seratus hasanah (kebaikan) dan dijauhkan darinya seratus keburukan dan baginya ada perlindungan dari (godaan) setan pada hari itu hingga petang dan tidak ada orang yang lebih baik amalnya dari pada orang yang membaca doa ini kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu_* (HR. Bukhari No. 6403 Fathul Bari, Shahih)


Semoga kita termasuk golonganya orang-orang yang senantiasa *_mengingat Allah SWT_*   dimana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja, aamiin  YRA

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang