INDIKASI ORANG-ORANG YANG GEMAR MENJUAL AGAMA ALLAH DENGAN HARGA MURAH



Oleh : Prof.Asasriwarni MH

*A. DALIL RUJUKAN :*


Di dalam Al-Qur’an dan Al Hadits, Allah SWT dan Rasulullah SAW  beberapa kali memperingatkan kepada  kita kaum Muslimin tentang larangan menjual ayat dengan harga yang murah.  yakni : *_… TASYTARU BIAYATI TSAMANAN QALILA_*  *_(menjual atau menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang murah)_*. Allah SWT sangat lah murka terhadap perilaku orang-orang yang seperti itu dan Allah SWT  mengancamnya dengan siksaan yang sangat keras di akhirat kelak. Mengapa diancam dengan  siksaan yang amat keras ?  Karena perilaku itu,  sama dengan merendahkan Nya dan merendahkan Al-Qur’an yang Agung. Hal tersebut dapat dilihat dalam firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW berikut ini :


*_1. Firman Allah SWT Dalam Ayat-Ayat Sbb :_*


*a. Al Baqarah Ayat 41 :*


وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ


*Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan _HARGA YANG REBDAH_ , dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa* (QS. Al-Baqarah Ayat : 41)


*b. Al Maidah Ayat 44 :*


فَلاَ تَخْشَوُاْ النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلاً


*Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan _HARGA YANG SEDIKIT_* (QS. Al-Maidah Ayat : 44)


 *c.  At-Taubah Ayat 9 :*


اِشۡتَرَوۡا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيۡلًا فَصَدُّوۡا عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ اِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُوۡا يَعۡمَلُوۡنَ


*Mereka memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan _HARGA MURAH_, lalu mereka menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Sungguh, betapa buruknya apa yang mereka kerjakan* (QS. At Taubah Ayat : 9)


*_2. Sabda Rasulullah SAW Dalam Hadits-Hadits Sbb :_*


*a. Dari Abu Hurairah mengatan, bahwa  Rasulullah SAW  bersabda sbb :*


مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ


*Barangsiapa yang _MEMPELAJARI SUATU  ILMU_  (belajar agama)  _SEHARUSNYA YANG DIHARAP ADALAH WAJAH ALLAH_, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat*  (HR. Abu Daud No. 3664, Ibnu Majah No. 252 dan Ahmad 2: 338. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)


*b. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan, bahwa  Rasulullah SAW bersabda sbb :*


إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ.ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ


*Orang yang pertama kali diputuskan pada hari kiamat adalah _SEORANG LAKI-LAKI YANG MATI SYAHID_  di jalan Allah. Lalu dia didatangkan, kemudian Allah memperlihatkan kepadanya nikmat-Nya, maka dia pun mengenalinya. Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang tersebut menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi _ENGKAU MELAKUKAN ITU SUPAYA DISEBUT SEBAGAI SEORANG PEMBERANI_  dan ucapan itu telah dilontarkan.” Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, maka dia diseret dengan wajahnya (terjerembab di tanah), sampai _DIA PUN DILEMPARKAN KE NERAKA_*


وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ


*Kemudian ada orang yang _BELAJAR AGAMA DAN MENGAJARKANNYA_, serta membaca Al Qur’an. Lalu orang itu didatangkan, lalu Allah memperlihatkan nikmat-Nya dan orang itu pun mengenalinya. Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang itu menjawab, “Aku telah belajar agama, mengajarkannya dan aku telah membaca Al Qur’an.” Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi _ENGKAU BELAJAR AGAMA SUPAYA DISEBUT ORANG ALIM_ dan engkau membaca Al Quran supaya disebut qari’ dan ucapan itu telah dilontarkan.” Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, maka dia pun diseret dengan wajahnya (terjerembab di tanah) sampai _DIA PUN DILEMPARKAN KE NERAKA_*


وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِىَ فِى النَّارِ


*Kemudian ada _SEORANG LAKI-LAKI YANG DIBERIKAN KELAPANGAN OLEH ALLAH DAN MENGANUGRAHINYA SEGALA MACAM HARTA_. Lalu dia pun didatangkan, lalu Allah memperlihatkan nikmat-Nya itu dan orang itu pun mengenalinya. Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang itu menjawab, “Aku tidak meninggalkan satu jalan pun sebagai peluang untuk berinfak melainkan aku berinfak di situ semata-mata karena-Mu.” Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi _ENGKAU MELAKUKAN SEPERTI ITU SUPAYA DISEBUT DERMAWAN_ dan ucapan itu telah dilontarkan.” Maka orang itu diperintahkan untuk dibawa, lalu dia pun diseret dengan wajahnya (terjerembab di tanah), kemudian _DIA PUN DILEMPARKAN KE NERAKA_*  (HR. Muslim No. 1905)


*B. PEBDAPAT AHLI TAFSIR :*


*_1. Dalam Tafsir Ibnu Katsir Dijelaskan, Bahwa :_*


معناه لا تعتاضوا عن البيان والإيضاح ونشر العلم النافع في الناس بالكتمان واللبس لتستمروا على رياستكم في الدنيا القليلة الحقيرة الزائلة عن قريب


*Maknanya, janganlah kalian mengambil dunia, dengan sengaja menyembunyikan penjelasan, informasi, dan tidak menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat, serta membuat samar kebenaran. Agar kalian bisa mempertahankan posisi kepemimpinan kalian di dunia yang murah, rendah, dan sebentar lagi akan binasa* (Tafsir Ibnu Katsir, 1/244).


*_2. Dalam Tafsir Harun Bin Zaid Menceritakan, Bahwa :_*


سئل الحسن ، يعني البصري ، عن قوله تعالى : ( ثمنا قليلا ) قال : الثمن القليل الدنيا بحذافيرها


*Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang firman Allah, [ثَمَناً قَلِيلاً] dijual dengan “harga yang rendah”.  Kata beliau, “Harga yang rendah adalah dunia seisinya* (Tafsir Ibnu Katsir, 1/243).


Cakupan tafsir ayat ini tidak berbeda dengan latar belakang Allah menurutkan ayat di atas. Siapa saja yang sengaja menyembunyikan kebenaran, dengan harapan agar bisa mendapatkan dunia atau mempertahankan penghasilan, termasuk diantara bentuk menjual ayat Allah dengan harga yang murah.


*C. KESIMPULAN :*


Menjual ayat dengan harga murah, minimal memiliki indikasi sbb :


*_1. Menyediakan Ayat Untuk Tujuan Salah :_*


Menyediakan disini ada dua pengertian :


*a. Pertama :*


Menyediakan atau memberitahu ayat untuk kepentingan orang tanpa mengetahui untuk apa penggunaannya. Padahal, mungkin seseorang ingin mengetahui sebuah ayat untuk tujuan yang salah.


*b. Kedua :*


Menyediakan ayat-ayat Qur’an dalam berbagai kesempatan untuk kepentingan materi dan uang. Misalnya : mengajar membaca Al-Qur’an atau ceramah agama dengan memasang tarif honor. Kalau tidak sesuai dengan tarif yang diminta, ia tidak mau. Jadi, niat utamanya mencari uang, bukan berdakwah lillahi ta’ala. Inilah makna  “menjual ayat dengan harga murah” atau “sedikit.”


*_2. Menjelaskan Ayat Secara Samar-Samar :_*


Ciri kedua perilaku “menjual ayat” adalah mengutip atau menyebutkan sebuah ayat Al-Qur’an secara samar-samar demi menyenangkan orang atau agar orang tidak tersinggung. Arti yang “sebenarnya” disembunyikan, agar orang tidak tersinggung, agar enak kedengarannya, agak kita simpatik. *“Tasytaru”*  (menjual/menukarkan) adalah perilaku memilih-milih ayat Al-Qur’an dalam berdakwah atau dalam berkomunikasi agar tidak menyinggung orang dipilihlah ayat-ayat yang lunak, yang menghibur dan menyenangkan, sementara ayat-ayat yang terdengar keras, pahit dan isinya ancaman Allah tidak diungkapkan. Dengan begitu, ia tetap laku dan disukai orang lain sebagai mubaligh. *“Tasytaru”*  juga bermakna melegitimasi tindakan, pikiran, situasi dan persoalan seseorang dengan ayat Qur’an tanpa melihat benar salahnya. Agar menarik simpatik pembicaraannya, dicarilah-carikah ayat Al-Qur’an sebagai pendukungnya. Ini adalah bentuk perilaku menjual ayat dengan harga murah. Ayat Al-Qur’an yang agung dan luhur kita suguhkan tapi dipilih-pilih yang menyenangkannya saja. Akhirnya, benar-benar harga murah atau kerendahan derajatlah yang kita dapatkan yaitu kesenangan orang, pujian orang kepada kita dan sebutan orang bahwa dia adalah ustadz yang bijak dan sebagainya. Padahal kebenaran dalam Al-Qur’an harus ditunjukkan dan diikuti tanpa pilih-pilih, kecuali pertimbangan ketepatan bukan selera dan kepentingan duniawi. Inilah makna kedua yang dimaksudkan Al-Qur’an: “Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.”


*_3. Menyampaikan Kebenaran Tidak Tegas :_*


Makna ketiga “menjual ayat dengan harga murah” adalah menyatakan kebenaran dengan tidak tegas agar tidak terdengar galak. Menyampaikan kebenaran dengan diplomatis dan bijaksana itu perlu dalam konteks tertentu tapi tidak dengan menghindari ketegasan, kebenaran dan menyembunyikan ancaman Allah. Kebenaran harus disampaikan apa adanya, tidak ada yang disembunyikan. Menyampaikan kebenaran tidak boleh takut resiko, kalau takut resiko ya jangan berdakwah, itu artinya belum siap. Dakwah menyeru kepada kebenaran adalah perilaku luhur dan mulia, tapi tentu ada resikonya. Nabi saja banyak yang membencinya apalagi manusia biasa. Seorang penyeru kebenaran (da’i) harus lebih takut kepada Allah ketimbang takut pada manusia. Dalam menyampaikan kebenaran, yang dituju semata-mata ridha Allah bukan simpati manusia. Rasulullah SAW mengingatkan: *Qulil haqqa walau kana murran* (sampaikanlah kebenaran walaupun terasa pahit). Orang yang memilih ayat yang lunak-lunak, yang lembut, agar mendapat simpati, agar ceramahnya dipakai lagi, agar tetap laku sebagai ustadz, adalah perilaku “menjual ayat dengan murah” yang disebutkan dalam Al-Qur’an.


*_4. Tidak Mau Mengingatkan Dan Menyampaikan Kebenaran :_* 


Ini adalah indikasi keempat dari orang yang menjual ayat dengan harga murah. Ia tidak mau, jarang bahkan tidak pernah mengingatkan orang, menolak menyampaikan kebenaran yang ia tahu karena tidak biasa, merasa kagok, segan, takut tidak diberi jabatan dll. Tahu kebenaran tapi tidak menyampaikan. Ini pun termasuk menjual ayat dengan harga yang sedikit atau murah. Misalnya, tahu bahwa shalat tidak boleh ditinggalkan dan tahu juga ayatnya tetapi temannya yang tidak shalat tidak pernah ditegur dan diingatkan padahal kemana-mana sering bersama. Perasaan takut menyinggung dan “tidak enak” (yang tidak proporsional) lebih diikuti daripada menyampaikan kebenaran. Ini termasuk indikasi menjual ayat dengan harga murah. Menukarkan yang mahal (memberikan nasehat kebenaran) dengan yang murah (pertemanan yang tidak saling mengingatkan). Contoh lain, seseorang tahu ayat Qur’an *wala taqrabu zina…* (dan janganlah kamu mendekati zina), tapi temannya yang bergaul bebas di depan matanya, bahkan sering berzina dengan perempuan, berganti-ganti untuk mencari kepuasan, tidak diingatkan karena tidak berani atau karena tidak biasa mengingatkan. Dibiarkan saja dan dimaklumi. Begitu pun dengan mabuk, mencuri dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya. Ini adalah pertemanan yang buruk dan termasuk kategori menjual ayat dengan harga murah, yang diancam dengan azab yang pedih. Atau kita mendukung seorang pemimpin tanpa pernah menegurnya ketika ia berbuat salah, bahkan tetap mendukungnya, agar ia tetap memakai kita. Itu semua adalah perilaku “menjual/menukarkan ayat dengan harga murah.” Seharusnya, bila tak mampu mengingatkan *(adh’aful iman)*,  hindari jangan didekati, jangan bergaul dengan orang yang berakhlak buruk seperti itu karena pertemanan itu akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah kelak. (Kitab Paradigma Hikmah Lima)


*_5. Tidak Mau Belajar Ilmu Agama :_*


Maksudnya adalah seseorang tidak punya sama sekali alat (pengetahuan agama) untuk meluruskan orang lain berbuat salah dan keliru. Ia biarkan semua, ia maklumi, karena ia sendiri memang tidak punya pengetahuan agama untuk menegurnya. Apalagi bila sama-sama sebagai pelaku keburukan dan dosa. Ia tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar menurut agama. Orang seperti ini mengaku Muslim tapi tidak pernah mau belajar agama dan bila sengaja tidak mau belajar agama termasuk kepada “menjual ayat dengan harga murah” karena ia lebih memilih yang murah yaitu kebodohannya, ketidaktahuan dalam agama dan ketidakmampuan saling menegur dan memberikan nasehat dalam pergaulannya.


Semoga hidup kita semakin bermanfaat dan berkah, aamiin YRA

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang