Pariaman Rancak Wisatanyo, Banyak Budayonyo


Oleh: Zikri Hidayat 

Mahasiswa Sastra Minangkabau

Universitas Andalas


Kota Pariaman merupakan sebuah Kota yang berada di Provinsi Sumatera Barat, Kota ini menyimpan sejuta pesona alam yang menakjubkan dan tersembunyi sehingga masih banyak orang yang belum mengtahui akan keindahannya. Mulai dari wisata alam, situs bersejarah, spot foto foto , sampai air terjun yang memanjakan mata. Kota ini juga memiliki banyak tempat-tempat wisata yang bernuansa alam,pantai, Sejarah, Religi maupun Kuliener dan lain-lain.

Kota Tabuik nama lain dari kota kecil ini memiliki 7 fakta unik dan legenda di tengah masyarakat. Dan bagi pengunjung berwisata ke Pariaman, wajib mengetahui cerita legenda tersebut.

1. Pulau Angso Duo

Pulau Angso Duo adalah salah satu Objek wisata pertama paling menarik dan unik untuk dikunjungi. Pasalnya, di pulau dengan luas sekitar 1 hektar ini terdapat sejarah yang belum terungkap sepenuhnya dari pakar sejarah. Di pulau itu terdapat sebuah Sumur Tua, beserta beberapa Pemakaman kecil disertai satu kuburan dengan panjang 7 meter. Masyarakat mengenal kuburan tersebut mendiang Ulama Katik Sangko.

Makam Ulama Katik Sangko

Menurut catatan naskah aksara jawi hasil transliterasi dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Addriyetti Amir dan disunting oleh Sudarmoko di buku PUITIKA Edisi Khusus Agustus 2001, Katik Sangko merupakan pengawal perjalanan Syekh Burhanuddin 


yang diperintah Syekh Abdulrauf as Singkili (guru dari Syekh Burhanuddin) dari Aceh kembali ke Ranah Minang. Bertujuan menyiarkan Agama Islam pada tahun 1070 Hijriah atau 1689 Masehi.

Mitosnya, Angso Duo dari nama Pulau itu merupakan lambang atau simbol dari dua tokoh Ulama berseragam jubah putih tersebut. Konon mereka memiliki kemampuan terbang dan berjalan di atas air, seperti Burung Angsa. Masyarakat Pariaman mengabadikan pulau bertuah tersebut sebagai pulau kiramat nan sati dengan sebutan Pulau Angso Duo. 

2. Konservasi Penyu

Kota Pariaman terletak dengan garis pantai sepanjang 12,73 km. Di samping itu juga terdapat 4 (empat) pulau kecil seperti Pulau Ujung, Pulau Tangah, Pulau Angso dan Pulau Kasiak. Pulau itu disekeliling ekosistem terumbu karang. Kawasan yang merupakan kawasan penyu bertelur setiap tahun. Jenis penyu yang banyak ditemukan adalah penyu lekang, penyu hijau dan penyu sisik. Berdasarkan potensi yang terdapat pada kawasan tersebut maka dijadikan kawasan konservasi perairan daerah Kota Pariaman oleh Walikota Pariaman pada tanggal 20 Oktober berdasarkan SK No. 334/523/2010. Kemudian berpindah ke wewenang Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera barat sesuai adanya Undang-Undang 23 Tahun 2014.

Penyu merupakan hewan yang dilindungi Indonesia sesuai Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang Pangawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. “Bahwa penyu berikut bagian-bagiannya termasuk telurnya merupakan satwa yang dilindungi oleh negara.” Dan peluang pemanfaatannya melalui penangkaran yang diatur PP No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.

3. Taman Hutan Mangrove

Hutan Mangrove di Kota Pariaman terletak antara Desa Apar dan Desa Mangguang. Awalnya Hutan Mangrove atau Bakau cukup luas dan terdapat habitan udang dan kepiting, menjadi santapan masyarakat setempat. Akibat minimnya kesadaran masyarakat, Hutan Bakau tersebut hanya tersisa 1 hektar, dan terancam musnah akibat seringnya penebangan dan perusakan secara liar. Hampir semua jenis mangrove ada di sini. Namun yang sudah ditanami ribuan bibit di sana adalah jenis Rhizophora.

Melalui penggiat atau komunitas TDC (Tabuik Diving Club) bersama Pemerintah Kota Pariaman dan PT. Pertamina (DPPU) Minangkabau, Hutan Tersebut kemudian disulap menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi di Sumatra Barat. Taman Hutan Mangrove saat ini memiliki jembatan dengan panjang 50 meter dan lebar 1,5 meter (nantinya pembangunan dilanjutkan hingga tuntas), disertai papan informasi tentang Mangrove. Pengunjung dapat menikmati suasana asri Hutan Mangrove beserta seluk beluk manfaat Bakau bagi kehidupan Manusia.

4. Masjid Raya Pariaman



Masjid dengan heritage (warisan budaya) masyarakat Pariaman dengan nama sebelumnya Surau Pasa. Masjid ini memiliki struktur dan motif bangunan unik dan mistis, serta menggambarkan arsitektur tempo dulu. Masjid yang diperkirakan berumur 200 tahun atau sudah ada sejak abag ke-19 atau tahun 1882. Didirikan oleh Ulama Syekh Muhammad Djamil Djambek dibantu arsitektur Cina dan Arab dahulunya. Perjuang memakan biaya yang cukup besar dan tenaga pada saat itu.

5. Wisata Muaro Mati

Wisata muaro mati terletak di Desa Marunggi, Kecamatan Pariaman Utara. Daerah Talao dengan wilayah lebih kurang empat hektar dipenuhi Mangrove mati. Lokasi dikelilingi danau kecil dan kini malah menjadi destinasi baru di Kota Pariaman. Masyarakat setempat memanfaatkan momen tersebut untuk keuntungan ekonomi. Selain indah, pengunjung selalu ramai berdatangan ke lokasi tersebut.

Objek wisata yang belum terkelola dengan baik itu lahir, berawal seorang foto grafer dan artisnya melakukan foto wedding di sekitar lokasi. Beberapa hari kemudian hasil karya foto grafer tersebut beredar di dunia maya dan menjadi viral di tengah masyarakat. Sejak saat itu kunjungan terus mengalir hingga berkembang menjadi wisata muaro mati. Masyarakat menyediakan tiga buah sampan serta sebuah lokasi untuk berfoto ria. Pengunjung dan masyarakat tampak menikmati lokasi tersebut sebagai sarana wisata menarik dan menghasilkan nilai ekonomis.

6. Kesenian Ulu Ambek Di setiap Sanggar atau Laga-laga

Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman sebagai masyarakat pesisir pantai Sumatera Barat memiliki ragam budaya unik yang tidak dimiliki daerah Minangkabau lainnya. Seperti kesenian Ulu Ambek. Pelestari Ulu Ambek adalah para pendekar yang tergabung dalam sebuah perguruan silat yang memiliki Laga-laga (tempat mereka tampil dan berlatih).

Ulu Ambek sendiri adalah seni pertunjukan dua orang pandekar dalam memainkan gerak silat yang tidak bersentuhan, melainan menggunakan (raso jo pareso atau rasa dan periksa) antara serangan dan tangkisan. Bila seseorang terlambat menahan tangisan atau terkena serangan lawan, disebut buluih. Bila itu terjadi, biasanya pemain beserta gurunya akan menanggung malu di kampung halamannya.

7. Pesta Budaya Tabuik

Tabuik adalah salah satu pesta budaya masyarakat Pariaman yang digelar setiap awal bulan Muharam. Tradisi tersebut dahulunya mengenang tewasnya cucu Nabi Muhammad, Mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW yakni Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan melawan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala. Seiring zaman, Tabuik dijadikan sebagai Ivent Budaya Tahunan sebagai ajang kunjungan wisata mancanegara ke Pariaman.


Sebelum Puncak Pesta Budaya Tabuik dilaksanakan, 10 Muharam, kegiatan dahulu beberapa rangkaian tradisi atau ritual. Mulai 1 hingga 8 Muharam pelaksanaan diawali Prosesi Maambiak Tanah (Mengambil Tanah), dilanjutkan Prosesi Manabang Batang Pisang, Maarak Jari-jari, Maarak Sorban dan Tabuik Naiak Pangkek.

 Nantinya Tabuik tersebut dibuang ke laut, pada sore hari atau matahari terbenam, kemudian masyarakat setempat biasanya berebutan mengambil semua bingkai dan raga-raga yang ada pada tubuh Tabuik. Mitosnya, ranting atau bingkai yang diambil dari tubuh tabuik dapat menjadi pelaris usaha atau pembawa keberuntungan saat menjalani usaha seseorang nantinya.

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang