MALU ADALAH BUDAYA MUSLIM YANG MERUPAKAN PERINTAH SYARI'AT, NAMUN SERING TERLUPAKAN


Oleh:    Prof.Dr.H.Asasriwarni MH


*_A. Dalil Rujukan :_*


*1. Allah SWT Berfirman Sbb :*


 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ


*Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk Makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang Maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. _Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar)_, dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar*  (QS. aMAl-Ahzab Ayat : 53)


*2. Rasulullah SAW Bersabda Sbb :*


عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بِنْ عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ.  رواه البخاري


*Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah Bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : Sesungguhnya salah satu perkara  yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah _"Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu"_* (HR.  Al-Bukhâri No. 3483, 3484, 6120);  Ahmad IV/121, 122, V/273); Abu Dawud No. 4797;  Ibnu Mâjah No. 4183); Ath-Thabrâni Dalam al-Mu’jamul Ausath No. 2332; Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ IV/411, VIII/129;  Al-Baihaqi  X/192;  Al-Baghawi Dalam Syarhus Sunnah No. 3597;  Ath-Thayâlisi No. 655);  Ibnu Hibban No. 606; dan At-Ta’liqatul Hisan).


*_B. Makna Malu Dalam Syari'at Islam :_*


Makna Perintah  Malu dalam Sabda Rasulullah SAW tersebut di atas *_(Jika engkau tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu)_* , pada prinsipnya dapat dipilah menjadi : 


*1. Perintah Yang Berupa  Peringatan dan Ancaman  :*


Maksudnya, jika engkau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah  sesukamu karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan yang setimpal dengan perbuatanmu itu, baik di dunia maupun di akhirat atau kedua-duanya. Sebagaimana firman Allah SWT di bawah ini :


   اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ


*…perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan* (QS. [Fushilat ayat : 40)


*2. Perintah Yang Mengandung  Arti Sebagai Penjelasan :*


Maksudnya, barangsiapa tidak memiliki rasa malu, maka ia berbuat apa saja yang ia inginkan, karena sesuatu yang menghalangi seseorang untuk berbuat buruk adalah rasa malu. Jadi, orang yang tidak malu akan larut dalam perbuatan keji dan mungkar, serta perbuatan-perbuatan yang dijauhi orang-orang yang mempunyai rasa malu. Ini sesuai dengan  sabda Rasulullah SAW sbb :


مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.


*Barangsiapa berdusta kepadaku dengan sengaja, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di Neraka* (HR. Bukhari No. 110 dan  Muslim No. 30).


Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas bentuknya berupa perintah, namun maknanya adalah penjelasan bahwa *barangsiapa berdusta terhadapku, ia telah menyiapkan tempat duduknya di Neraka* (Lihat Jami'ul Ulum WalHikam I/498 dan Qawa'id  Wa Faawaid Hal 180)


*3. Perintah Yang Mengandung Arti Pembolehan :*


Imam An-Nawawi Rahimahullah Berkata : *Perintah tersebut mengandung arti pembolehan. Maksudnya, jika engkau akan mengerjakan sesuatu, maka lihatlah, jika perbuatan itu merupakan sesuatu yang menjadikan engkau tidak merasa malu kepada Allah Azza wa Jalla dan manusia, maka lakukanlah, jika tidak, maka tinggalkanlah* (Fathul Bari X/523). 


*Pendapat yang paling benar adalah pendapat yang pertama, yang merupakan pendapat jumhur ulama* (Lihat Madaijus Salikin II/270).


*_C. Budaya Malu Yang Seharusnya  Dimiliki Oleh Setiap Muslim :_*


Budaya Malu adalah *akhlak (perangai) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat serta mencegah sikap melalaikan hak orang lain* (Lihat Al Haya'fi Dhauil Qur'anil Karim Wal Ahadits Ash Dhahihah Hal. 9) 


Mengacu Kepada Definisi Tersebut Di Atas, Maka Budaya Malu Yang Dimaksud Adalah : 


*1. Malu Pada Hakikatnya Tidak Mendatangkan Sesuatu Kecuali Kebaikan :*


Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.


Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW Berikut Ini :


اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.


*Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata* (Muttafaq ‘Alaihi).


Dalam riwayat Muslim disebut sbb : 


اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.


*Malu itu kebaikan seluruhnya* (HR. Bukhari No. 6117 dan Muslim No. 30/60).


Malu adalah akhlak para Nabi ,  terutama pemimpin mereka, yaitu Nabi Muhammad SAW  yang lebih pemalu daripada gadis yang sedang dipingit.


*2. Malu Adalah Cabang Keimanan :*


Rasulullah SAW bersabda sbb :


َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.


*Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan _La ilaha illallah_,  dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman* (HR. Bukhari No. 598, Muslim No. 35, Abu Dawud  No. 4676, An Nasa'i VII/110 dan Ibnu Majah No. 57). 


*3. Allah Azza Wa Jalla Cinta Kepada Orang-orang Yang Malu :*


Rasulullah SAW  bersabda sbb :


إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُـحِبُّ الْـحَيَاءَ وَالسِّتْرَ ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ.


*Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu, Maha Menutupi, Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri* (HR. Abu Dawud No. 4012, An Nasa'i No. I/200 dan Ahnaf IV/224).


*4. Malu Adalah Akhlak Para Malaikat :*


Rasulullah SAW  bersabda sbb :


أَلاَ أَسْتَحْيِ مِنْ رُجُلٍ تَسْتَحْيِ مِنْهُ الْـمَلاَ ئِكَةُ.


*Apakah aku tidak pantas merasa malu terhadap seseorang, padahal para Malaikat merasa malu kepadanya* (HR. Muslim No.  2401). 


*5. Malu Adalah Akhlak Islam :*


Rasulullah SAW bersabda sbb :


إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.


*Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu* (HR. Ibnu Majah No.  4181 dan Ath Tabrani I/13-14). 


*6. Malu Sebagai Pencegah Pemiliknya Dari Melakukan Maksiat :*


Ada salah seorang Shahabat Radhiyallahu anhu yang mengecam saudaranya dalam masalah malu dan ia berkata kepadanya :  *Sungguh, malu telah merugikanmu*.  Kemudian Rasulullah SAW  bersabda sbb :


دَعْهُ ، فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ.


*Biarkan dia, karena malu termasuk iman* (HR. Bukhari No. 24 dan 6118, Muslim No. 36, Ahnad II/9, Abu Dawud No. 4795, At Tarmidzi No. 2516, An Nasa'i No. VII/121, Ibnu Majah No. 58, dan Ibnu Hiban No. 610). 


Abu Ubaid Al-Harawi  Rahimahullah berkata :  *Maknanya, bahwa orang itu berhenti dari perbuatan maksiatnya karena rasa malunya, sehingga rasa malu itu seperti iman yang mencegah antara dia dengan perbuatan maksiat* (Fatul Bari X/522). 


*7. Malu Senantiasa Seiring Dengan Iman :*


Bila salah satunya di antara Malu dan Iman  tercabut hilanglah  yang lainnya. Hal ini sesuai dengan sabda 

Rasulullah SAW berikut ini :  


اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ.


*Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya* (HR. Al Hakim No. I/22,  Ath Tabrani No. I/223, Al Mundzuri Dakam At Targhib Wat Tarhib No. 3327, dan Ahu Nu'aim No. IV/328 dan 5741).


*8. Malu Akan Mengantarkan Seseorang Ke Surga :*


Rasulullah SAW  bersabda sbb : 


اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَ َاْلإِيْمَانُ فِـي الْـجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْـجَفَاءِ وَالْـجَفَاءُ فِـي النَّارِ.


*Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka* (HR. Ahnaf No. II/591, Ath Tarmudzi No. 2009,  Ibmu Hibban No. 1929, dan  Al Hakim I/52-53).

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang