BERHATI-HATILAH MEMELIHARA SIKAP DALAM BERSEDEKAH, KARENA ALIH-ALIH AKAN MENDAPATKAN PAHALA, TAPI JUSTRU AKAN MENUAI DOSA

 


Prof.Asasriwarni MH

*_A. Dalil Rujukannya :_*


Allah SWT memberikan rezeki bagi tiap-tiap hambanya sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Untuk itu,  kita  dikewajiban untuk menyisihkan sebagain dari rezeki yang kita terina untuk orang lain.


Bagi umat yang  menunaikan kewajibanya akan mendapatkan pahala yang  berlipat ganda. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam ayat berikut  ini : 


مَثَلُ الَّذِيۡنَ يُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَهُمۡ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنۡۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِىۡ كُلِّ سُنۡۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ‌ؕ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنۡ يَّشَآءُ‌ ؕ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيۡمٌ


*Perumpamaan orang-orang yang mendermakan (sedekah) harta bendanya di jalan Allah, seperti (orang yang menanam) sebutir biji yang menumbuhkan tujuh untai dan tiap-tiap untai terdapat seratus biji dan Allah melipatgandakan (balasan) kepada orang yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (anugerahNya) lagi Maha Mengetahui*  (QS. Al-Baqarah Ayat : 261)


*_B. Kesalahan Dalam Bersedekah Yang Harus Dihindari :_*


Terdapat banyak sekali keutamaan dari sedekah,  selain mendapatkan pahala dari Allah SWT, kita juga dapat membantu orang lain. Namun, dalam bersedekah terkadang kita tidak menyadari sedang melakukan kesalahan. Kesalahan ini jika terus menerus dilakukan bisa menjadi timbunan dosa yang berakibat pada berkurangnya pahala sedekah, bahkan bisa membuat  bangkrut. Kesalahan-kesalahan yang dimaksud adalah  :


*1. Menunda-nunda Waktu Sedekah :*


Sebagian dari kita mungkin berpikir bahwa yang bisa bersedekah hanyalah orang yang sudah mampu secara materi. Namun, sedekah tak hanya bisa dilakukan dengan materi, bahkan menolong orang lain dengan jasa pun kita sudah bisa bersedekah.


Selain itu, sedekah juga tak akan mengurangi apa yang kita miliki. Seperti janji Allah yang akan melipat gandakan apa yang kita berikan kepada orang lain. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW berikut ini :


 يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا، وَلِفُلاَنٍ كَذَا، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ


*Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda, “Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, 'Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan* (HR. Bukhari No. 1419 dan Muslim No. 1032).


*2. Menghitung-hitung Sedekah Yang Sudah Diberikan Kepada Orang Lain :*


Dalam bersedekah, sebaiknya jangan menghitungnya karena hal tersebut memungkinkan kita untuk merasa sombong kepada Allah. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW berikut ini :


أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ


*Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau menyedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan berkah rezeki tersebut* (Lihat tafsiran hadis ini sebagaimana yang disampaikan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, 3/300, Darul Ma’rifah, 1379) (HR. Bukhari No. 1433 dan Muslim No. 1029, 88]


*3. Mengharapkan Pujian Dari Orang Lain :*


Janganlah sekali-kali  mengharapkan pujian dari orang lain pada saat  kita bersedekah. Oleh karena itu,  Rasulullah SAW  menganjurkan umatnya untuk bersedekah secara sembunyi-sembunyi.  Sebagaimana  hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah mengibaratkan sedekah secara sembunyi-sembunyi ibarat tangan kanan yang  bersedekah  tangan kiri jangan sampai mengetahuinya.  Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW berikut ini :


سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ


*Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata : (1) Imam (pemimpin) yang adil; (2) Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya; (3) Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid; (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, di mana keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah; (5) Dan seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik rupawan, lalu ia mengatakan, “Sungguh aku takut kepada Allah; _(6) Seseorang yang bersedekah lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya_; (7) Dan orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya.*  (HR. Bukhari No. 660 dan Muslim No. 1031).


*4. Tidak Bersedekah Kepada Orang Terdekat Terlebih Dahulu :*


Dalam bersedekah, terdapat prioritas di mana orang-orang yang lebih dekat dengan kita harus lebih didahulukan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT berikut ini : 


يَسۡـــَٔلُوۡنَكَ مَاذَا يُنۡفِقُوۡنَ ؕ قُلۡ مَآ اَنۡفَقۡتُمۡ مِّنۡ خَيۡرٍ فَلِلۡوَالِدَيۡنِ وَالۡاَقۡرَبِيۡنَ وَالۡيَتٰمٰى وَالۡمَسٰكِيۡنِ وَابۡنِ السَّبِيۡلِ‌ؕ وَمَا تَفۡعَلُوۡا مِنۡ خَيۡرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيۡمٌ


*Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, "Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan." Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui* (QS. Al Baqarah Ayat : 215)


Berkaitan dengan ayat tersebut,  Rasulullah SAW juga menjabarkan,  bahwa pahala yang akan kita dapat dari sedekah itu  bergantung pada ke mana sedekah tersebut diberikan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW di bawah ini : 


اَلصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَ هِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ : صَدَقَةٌ وَ صِلَةٌ


*Bersedekah Kepada Orang Miskin Adalah Satu Sedekah, Dan Kepada Kerabat Ada Dua (Kebaikan); Sedekah Dan Silaturrahim* (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah Dan Hakim, Shahihul Jami’ No. 3858)


*5. Mengungkit-ungkit Sedekah Yang Diberikan :*


Mengungkit sedekah yang telah kita berikan kepada orang lain merupakan perbuatan yang memalukan. Hal tersebut  sesuai  dengan firnan Alah SWT di bawah ini : 


يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِكُمۡ بِالۡمَنِّ وَالۡاَذٰىۙ كَالَّذِىۡ يُنۡفِقُ مَالَهٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِ‌ؕ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلۡدًا ‌ؕ لَا يَقۡدِرُوۡنَ عَلٰى شَىۡءٍ مِّمَّا كَسَبُوۡا ‌ؕ وَاللّٰهُ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الۡـكٰفِرِيۡنَ


*Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir* (QS. Al Baqarah Ayat : 264)


Wallahu A'lam.

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang