ADA APA ANTARA ADZAN DAN IQAMAH ? DAN MENGAPA HARUS DIBERI JARAK YANG CUKUP ?



Oleh : Prof.Asasriwarni MH

Di antara Adzan dan Iqamah terdapat waktu yang sungguh afdhal untuk beribadah dan bermunajad kepada Allah SWT. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan agar diberi tenggang waktu yang cukup untuk menunaikan ibadah dan menujad.

Berikut ini akan disampaikan  beberapa keutamaan dan  fiqih yang berkaitan tenggang  waktu antara adzan dan iqamah.


*_A. Keutamaan Beribadah :_*


*1. Terdapat Pahala Shalat Sunnah :*


Ketika seseorang sampai di masjid, hendaknya ia *tidak duduk terlebih dahulu*, alangkah baiknya ia melakukan shalat sunnah 2 rakaat. Shalat tersebut bisa jadi shalat sunnah syukril wudhu'i, shalat sunnah tahiyyatul masjid, shalat sunnah rawatib, atau sekedar shalat sunnah mutlak antara adzan dan iqamah.


Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah SAW  tentang :


a. Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid,   Yakni : 


إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِس


*Jika salah seorang diantara kalian masuk masjid, maka hendaknya ia shalat dua rakaat sebelum ia duduk*  (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


b.  Kemudian Berkaitan Dengan Shalat Sunnah Mutlak, Rasulullah SAW Juga  Bersabda Sbb :


بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ – ثَلاَثًا – لِمَنْ شَاءَ


*Antara adzan dan iqamat itu terdapat shalat –Rasul mengulanginya tiga kali- bagi siapa yang berkehendak*  (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


c. Berkaitan Dengan Shalat Sunnah Rawatib :  Yang Paling Utama Adalah Shalat Sunnah Fajar (Shalat Sunnah Qabliyah Shubuh). Rasulullah SAW  Bersabda Sbb :


رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا


*Dua rakaat shalat sunnah shubuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya* (HR. Muslim).


*2. Salah Satu Waktu Terkabulnya Doa :*


Apabila telah selesai melaksanakan  shalat sunnah, hendaknya  memanjatkan doa saat masih ada waktu, sembari menunggu iqamah dikumandangkan. Karena tenggang antara adzan dan iqamah adalah waktu yang mustajabah untuk bermunajad kepada Allah SWT. Hal ini mengacu kepada beberapa sabda Rasulullah SAW berikut ini :


a. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


إِنَّ الدُّعَاءَ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ، فَادْعُوا


*Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa (yang dipanjatkan) di antara adzan dan iqamah, maka berdoalah (di waktu itu)*  (HR. Ahmad No. 12584, sanad hadits ini shahih sebagaimana penilaian Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)


b. Dalam riwayat yang lain juga disebutkan sbb :


الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ


*Doa itu tidak tertolak (jika dipanjatkan di antara) adzan dan iqamah*  (HR. Tirmidzi No. 212 dan 3595, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)


c. Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud dengan lafadz :


لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ


*Doa itu tidak tertolak (jika dipanjatkan di antara) adzan dan iqamah*  (HR. Abu Dawud No. 521, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)


d. Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala mengatakan :


ومن الأوقات التي يُرجى فيها قبولُ الدعاء ما بين الأذان والإقامة لِمَا ثبت عن أنس بن مالك رضي الله عنه


*Di antara waktu yang diharapkan terkabulnya adalah waktu yang terletak di antara adzan dan iqamah. Hal ini berdasarkan hadits valid yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu … “ kemudian beliau pun menyebutkan hadits di atas* (Fiqh Al-Ad’iyyah wal Adzkaar, 2: 102)


*3. Hindari Tergesa-gesa Mekakukan Iqamah Sebelum Batas Waktunya Habis :*


Berilah kesempatan kepada para calon jemaah untuk melakukan shalat sunnah dan berdoa. Karena bila sudah dikumandangkan Iqamah, tidak ada lagi shalat lagi kecuali shalah wajib. Hal ini sesuai dengan hadits yg diriwayatkan oleh  Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, yang mengatakan bahwa  Rasulullah SAW bersabda sbb :


إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةُ


*Apabila telah dikumandangkan iqamah maka tidak ada shalat kecuali shalat wajib* (HR. Muslim No. 1678 dan Nasai No. 874)


Hadits tersebut menunjukkan, bahwa setelah dikumandangkan  Iqamah *_tidak boleh lagi_* melakukan shalat sunnah yang berarti telah  memutus kesempatan orang lain untuk beribadah dan bermunajad keoada Allah SWT.


*_B. Fiqih Tenggang Waktu Antara Adzan Iqamah :_*


*1. HR. Tarmidzi :*


Rasulullah SAW bersabda sbb :


اجْعَلْ بَيْنَ أَذَانِكَ وَإِقَامَتِكَ نَفَسًا قَدْرَ مَا يَقْضِي الْمُعْتَصِرُ حَاجَتَهُ فِي مَهْلٍ , وَ قَدْرَ مَا يَفْرُغُ الْآكِلُ مِنْ طَعَامِهِ فِي مَهْلٍ


*Jadikanlah antara adzanmu dengan iqâmahmu kelonggaran seukuran mu’tashir (orang buang hajat) menyelesaikan hajatnya dengan tenang, dan seukuran orang yang sedang makan selesai dari makannya dengan tenang !*  [HR. At-Tirmidzi No. 195, dan lain-lain. Hadits ini dihukumi sebagai hadits hasan oleh syaikh al-Albani dalam Silsilah ash–Shahîhah No. 887. Lafazh hadits ini mengikuti yang tertulis di dalam Silsilah ash–Shahîhah)


*2. HR. Bukhari :*


 Rasulullah SAW bersabda sbb :


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ الْمُزَنِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثَلَاثًا لِمَنْ شَاءَ


*Dari Abdullah bin Mughaffal al-Muzani, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Antara setiap dua adzan (yang dimaksudkan dua adzan adalah adzan dan iqomah) ada shalat” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan tiga kali bagi orang yang menghendaki*  (HR. Al-Bukhâri No. 624)


*3. HR. Ahmad :*


Rasulullah SAW bersabda sbb :


اجعلْ بين أذانِك وإقامتِك نفَسًا ، قدرَ ما يقضي المعتصِرُ حاجتَه في مهَلٍ ، وقدْرَ ما يُفرِغُ الآكِلُ من طعامِه في مهَلٍ


*Jadikan (waktu) antara adzan dan iqamahmu, sesuai dengan orang yang tidak tergesa gesa dalam menunaikan hajatnya dan orang yang tidak tergesa gesa dalam menyelesaikan makannya*  (HR. Ahmad, Tirmidzi, dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Shahihah No. 887).


*4. HR. Ahmad :*


Rasulullah SAW bersabda sbb :


عَنْ أَنَسٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ، قَالَ: تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجْنَا إِلَى الْمَسْجِدِ، فَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ، قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: ” قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً


*Dari Anas, dari Zaid bin Tsaabit, ia berkata : “Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kami keluar menuju masjid, kemudian dikumandangkanlah iqamat. Aku (Anas) berkata : “Berapa lama jarak antarakeduanya?”. Ia (Zaid) menjawab : “Kira-kira waktu seseorang membaca Al-Qur`an sebanyak lima puluh ayat* (HR. Ahmad 5/182; shahih)


Dengan mengacu kepada sabda Rasulullah SAW tersebut di atas, para ulama bersepakat mengambil kesimpulan, bahwa  jarak antara adzan dan iqamah dapat diperkirakan kurang lebih antara 10-15 menit.


*Namun untuk waktu shalat maghrib dikecualikan, karena waktunya sempit*. Berkaitan dengan hal itu,  An-Nawawiy Rahimahullah berkata :


فاتفق اصحابنا علي استحباب هذه القعدة قدر ما تجتمع الجماعة الا في صلاة المغرب فانه لا يؤخرها لضيق وقتها


*Para shahabat kami (dari kalangan ulama Syaafi’iyyah) telah sepakat tentang disunnahkannya mengadakan jarak waktu (antara adzan dan iqamat) ini seukuran masa bagi berkumpulnya orang-orang yang hendak berjama’ah shalat. Kecuali untuk shalat maghrib, maka tidak boleh menundanya (sampai orang-orang berkumpul semua) karena waktunya yang sempit* (Al-Majmuu’, 3/121)

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang