ISTINJA' DALAM SYARI'AT ISLAM : ADAB DAN TATA CARANYA


 Prof.Dr.H.Asasriwarni MH

*_A. Pengertian Istinja' :_*


*1. Secara Bahasa :*


Kata istinja’ (اﺳﻨﺘﺠﺎء)  yang berasal dari bahasa Arab ini bermakna : *_menghilangkan kotoran_*


*2. Secara Istilah  Dalam Ilmu fiqih :* 


Menghilangkan najis dengan air atau dengan menggunakan semacam batu. Penggunaan air atau batu untuk menghilangkan najis yang keluar dari qubul (kemaluan) dan dubur (pantat).


*3. Selain Istilah Istinja' Ada Dua Istilah Lain Yang Mirip dan Terkait Erat, yaitu : Istijmar (ﺳﺘﺠﻤﺎرا) dan Istibra' (اﺳﺘﺒﺮاء) :*


a. *Istijmar*  adalah menghilangkan sisa buang air dengan menggunakan batu atau benda-benda yang semisalnya. 


b. *Istibra’* : bermakna menghabiskan sisa kotoran atau air kencing hingga yakin sudah benar-benar keluar semua.


*_B. Hukum Istinja’ :_*


Para ulama berbeda pendapat tentang hukum istinja’ menjadi dua hukum, yakni :


*1. Hukumnya Wajib :*


Mereka berpendapat bahwa istinja’ itu hukumnya wajib ketika ada sebabnya. Sebabnya adalah adanya sesuatu yang keluar dari tubuh lewat dua lubang (anus atau kemaluan).


Pendapat ini didukung oleh Al-Malikiyah Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah. Sedangkan dalil yang mereka gunakan adalah hadits Rasulullah SAW berikut ini :


عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أن رسول الله s قَالَ : إِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ إِلىَ الغَائِطَ فَلْيَسْتَطِبْ بِثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ فَإِنَّهَا تُجْزِي عَنْهُ . رواه أحمد والنسائي وأبو داود والدارقطني 


*Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : Bila kamu pergi ke tempat buang air, maka bawalah tiga batu untuk membersihkan. Dan cukuplah batu itu untuk membersihkan* (HR. Ahmad, Nasai, Abu Daud, Ad-Daaruquthuni).


Hadits ini bentuknya amr atau perintah dan konsekuensinya adalah kewajiban. Hal ini mengacu pada sabda Rasulullah SAW sbb :


عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَن بْنِ يَزِيد قَالَ :  قِيْلَ لِسَلْمَان : عَلَّمَكُم نَبِيُّكُم كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الخِرَاءَة , فَقَالَ سَلْمَان : أَجَلْ نَهَانَا أَنْ نَستَقْبِلَ القِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ , أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِي بِاليَمِين أَوْ أَنْ يَسْتَنْجِي أَحَدُنَا بِأَقَلِّ مِنْ ثَلاَثَةَ أَحْجَارٍ , أَوْ أَنْ يَسْتَنْجِيَ بِرَجِيْعٍ أَوْ بِعَظَمٍ .  رواه مسلم وأبو داود والترمذي 


*Dari Abdurrahman bin Yazid ra berkata bahwa telah dikatakan kepada Salman,”Nabimu telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu”. Salman berkata,”Benar, beliau telah melarang kita untuk menghadap kiblat ketika berak atau kencing. Juga melarang istinja’ dengan tangan kanan dan istinja dengan batu yang jumlahnya kurang dari tiba buah. Dan beristinja’ dengan tahi atau tulang*  (HR. Muslim, Abu Daud dan Tirmizy) 


*2. Hukumnya Sunnah :*


Pendapat ini didukung oleh Al-Hanafiyah dan sebagian riwayat dari Al-Malikiyah. Maksudnya adalah beristinja’ dengan menggunakan air itu hukumnya bukan wajib tetapi sunnah. Yang penting najis bekas buang air itu sudah bisa dihilangkan meskipun dengan batu atau dengan ber-istijmar.


Dasar yang digunakan Al-Imam Abu Hanifah dalam masalah kesunnahan istinja’ ini adalah hadits berikut :


عَنْ أبى هريرة رَضىَ اللَه عَنْهُ: أن رَسُولَ الله صلى الله عَلَيْهِ وَسَلمَ قَالَ: ” إذَا تَوَضَّأ أحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِي أنْفِهِ مَاءً ثم ليَسْتَنْثِرْ وَمَن اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ. وَإذَا اسْتَيْقَظَ أحدكم مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِل يَدَيْهِ قبْلَ أنْ يُدْخِلَهُمَا فَي الإنَاءِ ثَلاثاً (١) ، فَإن أحَدَكُمْ لا يَدْرِي أيْنَ بَات يَدُه”.


*Dari Abu Hurairoh -radhiyallohu ‘anhu- bahwasannya rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian berwudhu’ maka hendaklah ia memasukkan air ke hidungnya kemudian ber-istintsar (menyemburkannya). _Barang siapa yang beristijmar maka hendaklah ia mengganjilkannya_. Jika salah seorang di antara kalian terbangun dari tidurnya hendaklah ia mencuci kedua tangannya tiga kali sebelum mencelupkannya ke bejana, sebab salah seorang di antara kalian tidak tahu dimana semalam tangannya bermalam* (HR Bukhari dan Muslim)


Di dalam kitab Sirajul Wahhab milik kalangan mazhab AlHanafiyah :  *_Istinja’ itu ada 5 macam 4 diantaranya wajib dan 1 diantaranya sunnah_*.


a. Hukumnya Wajib :


Yang 4 itu adalah istinja’ dari haidh nifas janabah dan bila najis keluar dari lubangnya dan melebihi besarnya lubang keluarnya. 


b. Hukumnya Sunnah :


Sedangkan yang hukumnya sunnah adalah bila najis keluar dari lubangnya namun besarnya tidak melebihi besar lubang itu.


c. Kesimpulan : 


Mengomentari hal ini Ibnu Najim mengatakan bahwa : yang empat itu bukan istinja’ melainkan menghilangkan hadats,  sedangkan yang istinja’ itu hanyalah yang terakhir saja yaitu najis yang besarnya sebesar lubang keluarnya najis. Dan itu hukumnya sunnah. Sehingga istinja’ dalam mazhab Al-Hanafiyah hukumnya sunnah.


*_C.    Praktek Istinja’ dan Adabnya :_*


Mulai dengan mengambil air dengan tangan kiri dan mencuci kemaluan yaitu pada lubang tempat keluarnya air kencing. Atau seluruh kemaluan bila sehabis keluar mazi. Kemudian mencuci dubur dan disirami dengan air dengan mengosok-gosoknya dengan tangan kiri.

 

Sedangkan yang termasuk adab-adab istinja’ antara lain :


*1.  Sebelum Masuk Berdoa :*


Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,


سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِى آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ


*Penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia adalah jika salah seorang di antara mereka memasuki tempat buang hajat, lalu ia ucapkan “Bismillah* (HR. Tirmidzi No. 606)


Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan,


كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ »


*Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki jamban, beliau ucapkan: Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan* (HR. Bukhari No. 142 dan Muslim  No. 375)


*2. Masuk Dengan Kaki Kiri dan Keluar  Dengan Kaki Kanan :*


Untuk dalam perkara yang baik-baik seperti memakai sandal dan menyisir, maka kita dituntunkan untuk mendahulukan yang kanan. Sebagaimana terdapat dalam hadits,


كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ


*Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, ketika bersuci dan dalam setiap  perkara (yang baik-baik)* (HR. Bukhari No. 168 dan Muslim No. 268)


*3. Tidak Boleh Menghadap Atau Membelajangi Kiblat :*


Dari Abu Ayyub Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 


« إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا ، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا » . قَالَ أَبُو أَيُّوبَ فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ الْقِبْلَةِ ، فَنَنْحَرِفُ وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى


*Jika kalian mendatangi jamban, maka janganlah kalian menghadap kiblat dan membelakanginya. Akan tetapi, hadaplah ke arah timur atau barat.” Abu Ayyub mengatakan, “Dulu kami pernah tinggal di Syam. Kami mendapati jamban kami dibangun menghadap ke arah kiblat. Kami pun mengubah arah tempat tersebut dan kami memohon ampun pada Allah Ta’ala* (HR.  Bukhari No. 394 dan Muslim No. 264).


*4. Dilarang Berbicara Secara Mutlak, Kecuali Darurat :*


Dalilnya adalah hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,


أَنَّ رَجُلاً مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَبُولُ فَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ.


*Ada seseorang yang melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang kencing. Ketika itu, orang tersebut mengucapkan salam, namun beliau tidak membalasnya* (HR. Muslim No. 370)


*5. Menggunakan  Istitar :*


Maksudnya adalah memakai tabir atau penghalang agar tidak terlihat orang lain. Di zaman kita sekarang ini tentu bertabir atau berpenghalang ini sudah terpenuhi dengan masuk ke dalam kamar mandi yang tertutup pintunya.


Dalilnya dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu,  Rasulullah SAW bersabda sbb :


خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَأْتِى الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يُرَى. 


*Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar, beliau tidak menunaikan hajatnya di daerah terbuka, namun beliau pergi ke tempat yang jauh sampai tidak nampak dan tidak terlihat. Diwajibkan untuk menjaga aurat ketika istinja, jangan sampai auratnya terlihat oleh orang lain, selain istri dan budaknya. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda : Jagalah auratmu kecuali dari istrimu dan budakmu* (HR. Abu Daud dari Muawiah bin Haidah).


*6. Tidak Membaca Atau Membawa Sesuatu Bertuliskan Nama Allah Dan Nama2 Yang Dimuliakan :*


Tidak membaca dan membawa tulisan yang mengandung nama Allah SWT. Juga nama yang diagungkan seperti nama para malaikat. Atau nama nabi SAW. 


Sehingga memakai cincin yang bertuliskan nama Allah dan semacamnya. Hal ini terlarang karena kita diperintahkan untuk mengagungkan nama Allah dan ini sudah diketahui oleh setiap orang secara pasti. Allah SWT  berfirman sbb :


ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ


*Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati* (QS. Al Hajj Ayat :  32)


Ada sebuah riwayat dari Anas bin Malik, beliau mengatakan,


كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ


*Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki kamar mandi, beliau meletakkan cincinnya* (HR. Abu Dawud No. 19 dan Ibnu Majah No. 33)


*7.  Bercebok Menggunakan Tangan Kiri :*


Disunnahkan dalam beristinja' menggunakan tangan kiri. Dengan istinja' dengan tangan kanan hukumnya makruh.


Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW  :


عَنْ أَبِي قَتَادَةَ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ s لا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلا يَتَمَسَّحْ مِنْ اَلْخَلاَءِ بِيَمِينِهِ وَلا يَتَنَفَّسْ فِي اَلإِنَاءِ   مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِم 


*Dari Abi Qatadah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Bila kamu kencing maka jangan menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan. Bila buang air besar jangan cebok dengan tangan kanan. Dan jangan minum dengan sekali nafas* (HR. Muttafaq ‘alaihi).


*8. Istibra' :*


Mebunggu atau menghabiskan sisa kotoran atau air kencing hingga yakin betul bahwa sudah benar-benar keluar semua. Hal ini mengacu pada sabda Rasulullah SAW sbb :


وَعَنْ عِيسَى بْنِ يَزْدَادَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلْيَنْثُرْ ذَكَرَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ) رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه بِسَنَدٍ ضَعِيف


*Dari Isa Ibnu Yazdad dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah saw bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu telah selesai buang air kecil maka hendaknya ia mengurut kemaluannya tiga kali* (HR.  Ibnu Majah)


*9. Berdo'a "Ghufronaka" Setelah Keluar Dari Kamar Mandi :*


Dalilnya adalah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,


أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ قَالَ « غُفْرَانَكَ ».


*Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa setelah beliau keluar kamar mandi beliau ucapkan “ghufronaka” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu)* (HR.Abu Dawud  No.30, At Tirmidzi No. 300, dan Ad Darimi No. 680).


*_D.  Istijmar :_*


Istijmar sebagaimana disebutkan di muka, artinya adalah beristinja’ bukan dengan air tapi dengan menggunakan batu atau benda lain selain air sering disebut dengan istijmar.


Ada tiga buah batu yang berbeda yang digunakan untuk membersihkan bekas-bekas yang menempel saat buang air. Dasarnya adalah hadits Rasulullah SAW :


*1. Dari Aisyah Radhiallohu ‘Anha mengatakan bahwa, Rasulullah SAW bersabda sbb :*


إذا ذهب أحدكم إلى الغائط فليذهب معه بثلاثة أحجار يستطيب بهن فإنها تجزىء عنه


*Apabila salah seorang diantara kalian pergi untuk buang hajat, maka hendaklah dia pergi dengan membawa tiga batu yang dia bisa membersihkan diri ( dari kotoran buang hajat ) dengannya. Maka sesungguhnya hal itu ( tiga batu tersebut ) telah mencukupi baginya*  (HR. Abu Dawud No. 40 dan dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullah).


*2. Dari Salman Radhiallohu ‘Anhu berkata bahwa, Rasulullah SAW bersabda sbb :*


قيل له: قد علمكم نبيكم صلى الله عليه وسلم كل شيء حتى الخراءة قال فقال أجل لقد نهانا أن نستقبل القبلة لغائط أو بول أو أن نستنجي باليمين أو أن نستنجي بأقل من ثلاثة أحجار أو أن نستنجي برجيع أو بعظم


*Beliau pernah ditanya : “Apakah Nabi kalian-shollallahu ‘alaihi wa sallam-telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai masalah kotoran ( buang hajat ) ?”. Beliau ( Salman ) menjawab : “Ya, sungguh telah melarang kami ( beberapa perkara ) : menghadap kiblat ketika buang air besar dan kecil, istinja’ dengan tangan kanan, istinja’ dengan kurang dari tiga batu serta istinja’ dengan kotoran atau tulang*  (HR. Muslim No.  262 ).


*3. Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallohu ‘Anhu mengatakan bahwa,  Rasulullah SAW bersabda sbb :*


لاتستنجوا بالروث و لا بالعظام فإنه زاد إخوانكم من الجن


*Janganlah kalian beristinja’ dengan kotoran hewan dan jangan pula dengan tulang. Maka sesungguhnya dia itu merupakan perbekalan saudara-saudara kalian dari kalangan Jin* ( HR. At Tirmidzi No. 18 dan dishohihkan oleh Asy Syaikh Al-Albani Rahimahullah).

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang