Menyambung Silahturrahmi dengan Tradisi Makan Gulai baga


Oleh: Edo Fernando, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu budaya, Universitas Andalas

Tradisi merupakan kebudayaan yang diwariskan secara turun temurun dari sekelompok masyarakat berdasakan nilai-nilai budaya yang masih berkembang sampai sekarang. dalam bertradisi biasanya tergambar dari bagaimana masyarakat bertingkah laku dalam hal yang bersifat duniawi dan juga hal yang bersifat gaib, sakral, dan keagamaan.
Setiap kelompok suatu etnik mempunyai suatu adat mempunyai mempunyai suatu adat dan tradisi yang unik dal berkembang di dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.setiap kelompok etnik tersebut juga mempunyai ke khasan yang dihasilkan dari interaksi sosialnya di dalam kelompok itu sendiri. di minangkabau yang mempunyai banyak adat dan tradisi, serta makanan khas daerahnya sendiri.
secara umum, makanan syarat utama untuk kelangsungan hidup manusia dibumi. dengan kata lain, makanan meruapakan kebutuhan pokok utama dalam proses kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Masyarakat minangkabau mempunyai sistem norma-norma dan nilai-nilai yang terbentuk dalam berbagai tradisi, salah satunya tradisi ini dilakukan untuk orang yang baru dalam pelaksanaan pernikahan atau biasa disebut dengan sebutan istilah baralek bagi masyarakat minangkabau. Tradisi ini merupakan salah satu yang selalu dilaksanakan setiap tahunnya untuk orang yang sudah melakukan prosesi pernikahan atau baralek diminangkabau. adapun tradisi yang dilakukan sesudah baralek di Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman yaitu tradisi makan gulai baga.
Tradisi makan gulai baga merupakan tradisi tahunan yang selalu dilaksanakan dan dilakukan suatu kali dalam setahun oleh masyarakat Ulakan Tapakis hingga sampai saat ini di setiap tahunnya. Gulai baga ini merupakan gulai yang terbuat dari isi perut kerbau atau sapi seperti usus dan sebagainya tanpa menggunankan santan dalam memasakknya. Tradisi di peruntukkan atau di pertanggung jawabkan oleh orang yang baru melaksanakan proses pernikahan, dimana pihak perempuan dari suami menyediakan gulai baga tersebut untuk dimakan bersama-sama dari rombongan pihak laki-laki. Tradisi ini dilakukan setelah satu hari  setelah hari besar umat islam yaitu hari raya idul fitri, dan tentu saja pihak perempuan selalu menjadi tuan rumah di setiap tahunnya. Dalam tradisi ini tidak diwajibkan dan diharuskan untuk harus melaksanakannya apabila tidak mampu dalam melaksanakannya.
menuju kerumah pihak perempuan yakni berombongan, dan yang mengikuti tradisi ini adalah kalangan pemuda-pemuda atau hanya dilakukan oleh laki-laki saja, dimana pihak laki-laki mengajak saudara, kerabat dekat dan teman-temannya. Unikanya dari tradisi ini yaitu hanya diikuti oleh laki-laki saja, dan tidak ada satupun perempuan yang mengikuti acara ini untuk pergei ke rumah pihak perempuan.
Dan setibanya sampai dilokasi mereka disambut oleh tuan rumah, kapalo mudo dan ketua pemuda untuk mempersilahkan untuk masuk. Gulai baga dihidangkan  dialam rumah dan di pimpin oleh kapalo mudo pihak laki-laki dan kapalo mudo pihak perempuan serta ketua pemuda beberapa orang pemuda-pemuda dan melakukan pembuka kata pasambahan sebelum dimulai. tuan rumah juga menyediakan gulai baga sebagai simbol tradisi ini beserta dengan hidangan makanan lainnya untuk rombongan yang datang.
 Tujuan dilaksanakannya tradisi ini yaitu untuk menyambung sillahturahmi pasca lebaran idul fitri kepada kedua keluarga untuk memperkenalkan kerabat kerabat dekat dari kedua keluarga keluarga.

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang