INTERPRETASI SILEK MINANGKABAU DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

OLEH: EGGY AHMAD FAREZI

Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari pulau-pulau. Pada tahun 2019 tercatat lebih kurang 17.000 ribu pulau yang di miliki Indonesia. Inilah salah satu faktor Indonesia juga memiliki kebergaman suku bangsa dan budaya. Keberagaman suku bangsa dan budaya yang tercipta dan terbentuk di masyarakat merupakan identitas masyarakat itu sendiri. masing-masing suku bangsa dan budaya itu memiliki tata cara atau tradisi yang berbeda namun sering memiliki tujuan yang sama. Selain itu, tradisi tercipta dan terbentuk dari kebutuhan masyarakat dan memiliki nilai-nilai yang bermakna tentang proses kehidupan dalam masyarakat. Effat Al-Syarqawi merupakan seorang budayawan mengatakan Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari system yang rumit termaksuk system agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Budaya suatu khasanah dalam sejarah dari kelompok masyarakat yang tercermin pada kesaksian dan berbagai nilai kehidupan. Salah satu suku bangsa di Indonesia yang dapat kita ambil contohnya yaitu Minangkabau. Mari kita lihat salah satu seni tradisi yang ada di Minangkabau yaitu silek (silat).
Tradisi silek dalam Minangkabau merupakan seni tradisi yang bermakna sangat dalam dan menggambarkan proses kehidupan dalam masyarakat Minangkabau. Pada dasarnya silek sudah di perkenalkan kepada anak-anak minangkabau yang sudah akil baligh. Mereka mendapatkan pelajaran silek di surau tempat mereka mengaji atau gelanggang (sasaran) yang ada. Silek dalam maknanya sangat mencerminkan keadaan, sikap, prilaku, serta tatanan kehidupan masyarakat Minangkabau. Oleh sebeb itu, silek merupakan salah satu dari jati diri masyarakat Minangkabau.
 Kaum mileneal menganggap silek hanya sebagai ilmu beladiri, mereka tidak mengetahui maksud dan makna dari silek itu sendiri. Pada dasarnya silek bukan hanya sekedar ilmu beladiri seperti yang di anggap kaum mileneal, silek juga mempelajari ilmu bathin seperti yang di katakan dalam petatah Minang di lahia mancari kawan di bathin mancari tuhan yang artinya silek juga mengajarkan pengendalian diri sendiri bagaimana manusia hidup atau berbaur dengan lingkungannya, dan bagaimana manusia menjalin hunbungannya dengan tuhan sang pencipta yang maha Esa. Menurut Subroto dan Rohadi (1996:6), nilai-nilai luhur dalam silek dapat dimengerti dari 4 aspek, yaitu aspek mental spiritual, aspek olahraga, aspek seni budaya, dan aspek beladiri.
Dalam pertunjukan silek kita disuguhkan salam pasambahan lalu dilanjutakan dengan pertunjukan berbentuk pertarungan namun tidak memperlihatkan kemenangan dan kekalahan. selanjutnya, diakhir pertarungan akan di tutup kembali dengan salam pasambahan antara pesilat. Jadi dapat disimpulkan, dalam pertunjukan silek kita dapat memahami secara simbolik bahwa silek sebenarnya bukan hanya sekedar ilmu beladiri atau ajang pertunjukan. Namun, silek mengajarkan bagaimana cara bersikap dan menyesuiakan diri didalam masyarakat serta dapat mena’ati perintah tuhan yang maha-Esa.
Sumber: PENGUATAN EKSISTENSI BANGSA MELALUI SENI BELA DIRI TRADISIONAL   PENCAK SILATOleh Endang KumaidahPengajar Jurusan Fisiologi,Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (ejurnal.undip.ac.id)

1 comment:

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang