IMPLEMENTASI MAKNA HAJI DAN QURBAN; AKTUALISASI PEMBANGUNAN DI INDONESIA




Oleh : Prof. DR. H. ASASRIWARNI, MH
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ. 
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّى وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ. أَشْهَدُ ألاَّ إِلَهَ إِلاًّ أنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ وأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ. اللهم صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مَنْ سَنَّ بِقَوْلِهِ: «أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا أَلاًَ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَيَّ مَوْضُـوعٌ »، وَعَلىَ آلِهِ وَأصْحَابِهِ وَمَنْ وَالاَهُ.. 
أما بعد، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتَهِ كَمَا جَاءَ فِيْ قَوْلِهِ: ]أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لاَ يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلاَ مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُورُ [ ،
Ma'âsyira al-Muslimîn Ra himakumullâh Segenap puja dan puji marilah kita peruntukkan hanya kepada Allah SWT., Zat Yang Maha Agung lagi Mulia. Seluruh hidup dan kehidupan kita serta alam semesta berada dalam genggaman-Nya Yang Maha Rahman lagi Maha Rahim.
Salawat dan salam  kita mohonkan kepada Allah semoga disampaikan kepada arwah Nabi Besar Muhammad Saw., seorang manusia mulia pilihan Allah, yang telah mengorbankan segenap hidupnya untuk menegakkan kalimat Laa Ilahailallah permukaan bumi ini.
Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhil hamd
Ma'âsyira al-Muslimîn Ra himakumullâh
Semenjak fajar muncul di ufuk timur pagi ini sampai terbenamnya Matahari tanggal 13 Zulhijjah nanti, yang dikenal dengan hari tasyrik, kaum muslimin di seluruh penjuru bumi berada dalam suasana Idul Adha. Sama-sama mengagungkan asma Ilahi, dengan Takbir, Tahlil dan Tahmid.
Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhil hamd
Kalimat suci itu menggema, menyentuh kalbu, membuat jiwa orang yang beriman tunduk, merunduk khusyuk, merasakan kebesaran Allah.
Ma'âsyira al-Muslimîn Ra himakumullâh
Ibadah haji dan qurban selalu mengingatkan kita kepada peristiwa-peristiwa tertentu yang pernah dialami Nabi Ibrahim dan keluarga; Siti Hajar dan Nabi Ismail. Sebagai 'Bapak' dari agama-agama monotheisme, Nabi Ibrahim dan keluarga beliau telah menunjukkan tauladan yang terbaik bagi umat manusia. 
Pertama; untuk menegakkan kalimat tauhid, beliau harus berhadapan langsung dengan ayah kandungnya Azar, seorang pembuat patung yang musyrik. Kemudian beliau juga harus berhadapan dengan raja Namrud, yang mengaku sebagai Tuhan, Ibrahim divonis, dibakar hidup-hidup. Namun Allah menyelamatkan beliau ;

Artinya: ”Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim". (sehelai bulu pun tidak disentuh oleh api tersebut)
Hadirin yang mulia, peristiwa tersebut menjadi i’tibar bagi kita untuk mempertahankan aqidah adalah suatu kewajiban setiap pribadi yang tidak bisa ditawar-tawar. Tidak dengan harta, jabatan dan segala macam yang berbentuk materi, tidak pula dengan orangtua dan anak belahan jiwa. Perjuangan dalam memelihara dan memegang teguh keyakinan kepada Allah, sehingga tidak dicemari dengan perbuatan yang tidak diredhai-Nya,  itulah yang disebut dengan sikap istiqamah. Sikap teguh, laksana batu karang di ujung pulau, dihempas ombak dan gelombang, bertambah kuat hempasan ombak, bertambah kokoh karangnya. Bagaikan pohon di tengah padang, diterpa angin dan badai setiap saat, terhoyong ke kiri dan ke kanan, makin terhunjam akarnya ke petala bumi. Nabi Ibrahim dalam tafsir disebutkan telah berumur 80 tahun belum dikaruniai seorang anak maka Ibrahim berdo’a ”rabbi habli minassholihin” Ya Tuhan karuniai lah aku anak yang sholeh. Sudah sekian lama do’a Iibrahim tersebut dikabulkan Allah swt ”Fabasyyarnahu bighulaminalim”. Telah hamil Siti Hajar dan lahirlah seorang anak yang diidam-idamkan.
Kedua : Pergumulan batin yang amat berat dialami Nabi Ibrahim adalah ketika menerima perintah untuk menyemblih anaknya, Ismail as. Darah daging si buah hati, yang ditunggu kelahirannya selama delapan puluh tahun lebih, anak yang baru berusia remaja awal, pintar dan menggemaskan. Milik yang paling berharga bagi seorang Bapak dan Ibu. Namun demikian, atas dasar iman kepada Allah, Ibrahim as. melaksanakan perintah itu dengan ikhlas, setelah dapat mengalahkan godaan syetan, baik Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail kemudian melemparnya. Ini pula yang dijadikan jama’ah haji untuk melempar Jumrah di Mina, ‘Aqabah ula dan Wustha yang setan itu tetap menggoda kita sampai kapan pun. Dengan   penuh kasih  sayang Ibrahim berkata kepada anaknya:

Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
: pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan kami panggillah dia: "Hai Ibrahim..! Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S {37} : 102 -105)
Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhil hamd
Keta'atan Ibrahim as kepada Allah dengan bersedia menyemblih anaknya, sungguh merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi umat Islam. Siapakah manusia di muka bumi ini yang tidak butuh harta, jabatan, kekuasaan, kehormatan,  anak dan segala macam yang mendatangkan kesenangan? Akan tetapi semua itu, sekali-kali tidak boleh menjadikan kita jauh dari keredhaan Allah. Justru sebaliknya, harta, jabatan, kekuasaan, ilmu dan juga anak, adalah amanah harus kita kondisikan agar menjadikan kita makin mulia dihadapan Allah SWT. Oleh karena itu, kalau kita ingin mendapatkan posisi yang mulia disisi Allah selayaknya kita mengikuti jejak langkah Ibrahim as yang dilanjutkan Rasulullah SAW yakni mengokohkan, ilmu dan iman sehingga memancarkan amal shaleh yang tidak henti-hentinya. Wujud dari penghayatan iman kepada Allah niscaya akan membuahkan ibadah, dan akhirnya ibadah akan melahirkan akhlakul karimah (akhlak yang baik dalam kehidupan) dan manjadikan manusia mulia disisi Allah. Sebagaimana firmankan Allah yang 

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”.  Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". (Q.S {2) : 124)

Ma'âsyira al-Muslimîn Ra himakumullâh

Seluruh rangkaian ibadah haji dan qurban pada satu sisi adalah napak tilas dari perjuangan dan ketaatan Ibrahim bersama keluarganya dalam mematuhi poerih Allah. Ibadah haji tahun ini Raja Arab Saudi setelah meminta pertimbangan Mufti Al-Azhar Mesir maka pelaksanaan ibadah haji tahun ini ditunda sampai tahun depan karena bahaya pandemic covid-19 diseluruh dunia. Tapi bagi kaum muslimin yang belum jadi berangkat tahun ini termasuk belum mempunyaki kesanggupan karna firman Allah “Manistato’ailaihisabila” Termasuk didalam nya sanggup biaya ke tanah suci kemudia keluarga yang ditinggalkan aman, kemudian negri aman, sekarang tanah suci tidak aman dari penyakit. Tapi ada ibadah yang sama nilainya dengan ibadah haji walaupun tidak ke tanah suci, baik bagi yang tertunda ataupun tidak mampu sama sekali maka ucapkanlah “Subhanallah walhamdulillah Allahuakbar” sama dengan berangkat haji. 
Dan malah ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa Ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al Hanzhali al Marwazi ulama terkenal di Makkah yang menceritakan riwayat ini.
Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka :
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun.”
Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”
Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”Kok bisa”
“Itu kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq (Damaskus sekarang).”
Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sepulang haji, ia tidak langsung pulang ke rumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.
Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.
“Ada, di tepi kota,” jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu
“Betul, siapa tuan?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”
Said pun terharu, "Bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”
Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya. Akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya.
“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”

Wah saya sendiri tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.
Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :
Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka.
Ya Allah, aku datang karena panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaan-Mu dan kekuasaan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.
Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis. Ya allah aku rindu Mekah. Ya Allah aku rindu melihat kabah. Ijinkan aku datang…..Ijinkan aku datang ya Allah..
Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.
Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.
“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi?”

Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?”
“Ya saying.” “Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku.”
"Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.”
Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.
Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :
“Tidak boleh tuan.”
“Dijual berapapun akan saya beli.”
“Makanan itu tidak dijual, tuan,” katanya sambil berlinang mata.
Akhirnya saya tanya kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata, “Daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan,” katanya.
Dalam hati saya, bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?
Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”

Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Di rumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.
“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram."
Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.
“Ini masakan untuk mu.”
Uang peruntukan haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.
”Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi.”
Ya Allah, disinilah Hajiku.
Ya Allah, disinilah Mekahku.
Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata.
Sahabatku, ingat ada dua yang tidak kekal dalam diri manusia! Yakni, masa muda dan kekuatan fisiknya. Jangan lupa, ada dua juga yang akan bermanfaat bagi semua orang  budi pekerti yang luhur serta jiwa yang ikhlas memaafkan.
Perhatikan. Ada dua pula yang akan mengangkat derajat kemulian manusia yakni, rendah hati dan suka meringankan beban hidup orang lain.

Dan ada dua yang akan menolak datangnya bencana, yakni sedekah serta menjalin hubungan silaturrahim. Semoga kita menjadi orang orang yang dimuliakan Allah Swt. aamiin.
Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)
Ma'âsyira al-Muslimîn Ra himakumullâh
Marilah kita menoleh kepada negeri kita ini. Dalam hal ini, kita kutip do’a Ibrahim:
                                 
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, Kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali". (Q.S {2}: 126)
Seiring dengan itu, dunia ini akan terasa indah jika kita memiliki kesadaran yang tinggi dalam 

menjalankan syariat Islam, sebagaimana Nabi bersabda: 
الدنيا بستان  تزينت بخمسة  اشياء  علم العلماء وعدل الامراء و عبادة العباد و امانة التجار و نصيحة المحترفين    
Artinya:  “Dunia ini ibarat  sebuah taman, yang dihiasi dengan lima hiasan kehidupan , yaitu Ilmunya 'ulama, adilnya para pemimpin, ibadahnya umat manusia sebagai hamba Allah, amanahnya para pedagang, dan disiplinnya para karyawan”.Dalam riwayat lain dijelaskan juga dermawannya para orang kaya.
Alangkah indahnya tamsilan yang disampaikan Rasulullah SAW ini, lima kelompok kualitas manusia ini jika dikembangkan di tanah air Indonesia ini, maka akan menjadikan negeri ini aman dan tentram, rakyatnya hidup damai dan sejahtera;
1. Ilmunya Para Ulama/cendikiawan 
Dalam Islam, seseorang disamping menuntut ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) harus diiringi dengan  iman dan taqwa (IMTAK). Sebab dengan hanya ilmu  pengetahuan saja, seseorang dapat menjadi bebas hingga membuat dia sesat, namun ilmu pengetahuan yang diiringi dengan iman dan taqwa, akan bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.

Ilmu adalah kekuatan, yang dengan kekuatan itu kita dapat menguasai dunia.  Lihatlah negara-negara yang telah memiliki teknologi tinggi, seperti : Amerika, Jepang, Jerman, dan lain-lain. Karena mereka menguasai ilmu dan teknologi, mereka dapat menguasai dunia. Hal ini seperti kata orang Barat, “Knowledge  is a power “, artinya “ Ilmu pengetahuan adalah kekuatan.” Guna kita menuntut ilmu agar pandai, agar tak bisa ditipu orang, agar dapat memimpin bangsa dan negara ini dengan baik. Dengan ilmu, kita akan dapat hidup di dunia ini dengan selamat. Karena ilmu itu adalah cahaya yang akan menunjuki dan menerangi jalan kita. Karena itulah peran ulama/cendikiawan sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai Iptek dan Imtak. Ulama/cendikiawan mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk meneruskan ajaran  Nabi SAW agar menjadi orang berkualitas dihadapan Allah maupun manusia. Ilmu, iman, amal dan akhlak.
2. Adilnya Para Pemimpin.
Pemimpin adalah orang yang mendapatkan amanah untuk mengemban tugas kepemimpinan, seorang pemimpin berarti pula seorang yang telah mengambil amanah tentang tugas dan kewajiban seseorang, yang pada saat kepemimpinan atau akhir masa tugasnya, akan mempertanggungjawabkan amanah itu baik kepada sesama manusia atau kepada Allah SWT.

Dalam hal ini Rasulullah SAW. pernah suatu saat didatangi seorang sahabat yang bernama Abudzar al Ghifari. Sahabat tersebut menyampaikan  keinginannya untuk menjadi seorang pemimpin, Rasulullah SAW tidak langsung memberinya jabatan kepemimpinan, tetapi Rasulullah SAW. memberikan nasehat kepadanya, : Wahai Abudzar, engkau orang yang lemah dan engkau tidak akan mampu untuk mengemban amanah ini, karena amanah ini harus engkau pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Rasulullah saw bersabda dalam haditsnya :
كلكم  راع وكلكم مسؤل عن رعيته                                                                                                     
"Kamu kamu adalah pemimpin, dan akan diminta pertanggungjawaban setiap apa yang dipimpin.” 
Berdasarkan hadits di atas dapat dipahami bahwa seorang pemimpin akan mengemban amanah yang sangat berat, karena itu harus mempunyai sifat-sifat yang terpuji seperti sidiq, amanah, fathonah dan tabligh sifat-sifat lain seperti kemampuan, wawasan, kelapangan dalam mengatasi setiap persoalan
Jika sifat-sifat tersebut dimilikinya, maka ia akan mampu berbuat adil ditengah-tengah masyarakat dan seorang pemimpin yang adil nanti di yaumil qiyamah akan mendapatkan naungan dan perlindungan dari Allah SWT. dalam jajaran tujuh golongan yang akan mendapat naungan dan perlindungan dari-Nya.
Dari Abu Hurairah ra. Nabi bersabda yang artinya " Allah SWT akan memberikan naungan kepada tujuh jenis orang pada hari kiamat, dimana tidak ada naungan ketika itu kecuali naungan Allah :
Imam ( pemimpin , kepala pemerintahan) yang adil
Pemuda yang terdidik/ terlatih sejak kecil beribadah kepada Allah.
Seseorang yang hatinya tergantung di Masjid.
Dua orang yang saling mengasihi karena Allah, mereka berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah.
Seorang laki-laki yang dirayu untuk berbuat mesum oleh wanita bangsawan yang cantik, lantas ia menolak dengan berkata halus, aku takut kepada Allah .
Seorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang telah diberikan tangan kanannya.
Seorang yang mengingat Allah di waktu sunyi, lantas mengeluarkan air mata. (HR.Bukhari. 367).

3.  Ibadahnya Umat Manusia.
Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan tujuan agar ia mau mengabdikan diri kepada Allah SWT, hal ini disebutkan dalam al-Qur'an surat adz-Dzariyat : 56 "Dan tidaklah Kami menciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk menyembah-Ku " Peribadatan yang diperintahkan kepada manusia tidak dapat ditawar-tawar lagi dan ini merupakan keharusan yang mutlak adanya serta dilaksanakan dengan ikhlas. Allah swt. menyebutkan dalam berbagai surat dan ayat diantaranya :”Dan tidaklah mereka diperintah untuk menyembah Allah SWT melainkan dengan ikhlas”. 
4.  Amanahnya Para Pedagang.
Di dunia ini, bisnis atau perdagangan merupakan aktifitas perekonomian yang menunjukkan maju atau tidaknya ekonomi suatu bangsa, sebagai ukuran adalah penjualan omset perdagangannya. Seorang pedagang yang jujur, amanah dan siddiq telah Allah persiapkan baginya tempat yang mulia nanti di hari akhirat. Rasulullah SAW bersabda :“Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya tempatnya beserta para syuhada dan orang-orang sholeh, namun manakala ia tidak jujur dalam takaran dan timbangan maupun harga, maka Allah menyediakan baginya ancaman yang keras bahwa ia akan dimasukkan kedalam neraka.” Kejujuran bukan saja para pedagang tetapi semua lini kehidupan.
5.  Disiplinnya Para Karyawan.

 Karyawan atau pegawai  adalah orang yang bekerja kepada orang lain atau lembaga pemerintah atau swasta dengan menerima imbalan/upah/gaji/honor. Jika para  karyawan atau pegawai tersebut bekerja dengan baik dan disiplin, melaksanakan peraturan yang berlaku, maka insya Allah negara kita akan menjadi negara yang maju, aman dan tenteram, semua masyarakat menginginkan negara kita, menjadi negara yang maju, gemah ripah toto tentram kerto raharjo, untuk itu marilah kelima hiasan dunia itu kita penuhi .
Yang kebetulan sebagai ulama/cendekiawan, jadilah ulama dan cendekiawan yang menerangi dan memimpin umat dengan baik.
Yang kebetulan menjadi umara, jadilah umara yang dapat menegakkan keadilan diberbagai bidang.
Yang kebetulan jadi pedagang, jadilah pedagang yang amanah.       
Yang kebetulan menjadi karyawan, jadilah karyawan yang taat pada         peraturan. Dan karena kita semua sebagai hamba Allah SWT, maka jadilah hamba yang taat dalam beribadah kepada-Nya, Aamiin...
Pemurahnya para Dermawan sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap fakir miskin dan para dhu’afa.

Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhil hamd
Ma'âsyira al-Muslimîn Ra himakumullâh

Ibadah haji melibatkan proses perpindahan dari tataran kehidupan profan kepada kesucian (ihram), yang disimbolisasikan dengan pakaian ihram, yang serba putih tanpa jahitan. Proses penyucian diri tidak hanya mencakup penyucian fisik, ritual-ritual purifikasi, tetapi juga penyucian diri dari tanda-tanda lahiriah yang menunjukkan diferensiasi sosial, sehingga kita betul-betul menemukan keshalehan sosial, tidak hanya sebatas manusia tetapi juga terhadap alam lingkungan, sehingga Islam betul-betul menjadi Rahmatalil’alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta).
Rahmat Allah Yang Maha Laus adalah dambaan setiap muslim dan itu hanya dapat dicapai dengan menerapkan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah SWT, makanya jika kita mau merenung, betapa Islam mengajarkan kepada kita ramah terhadap alam lingkungan, sebagai bentuk kepedulian Islam terhadap global warming. Coba lihat…Betapa ketika melaksanakan ibadah Haji, seseorang dilarang merusak lingkungan dengan cara membabi buta, menebang dan mencabut rumput dan pohon dengan sembarangan, jika ia melanggarnya maka ia harus membayar dam (denda) dari pelanggaran itu. Diantara hadits Nabi yang menjelaskan tentang hal ini, yang artinya: "Sesunguhnya negeri ini (Makkah) negeri terpelihara, oleh penjagaan Allah, sampai hari kiamat, pohon-pohonnya tidak boleh dipotong, binatangnya tidak boleh diburu, dan tidak boleh dipungut barang 

yang didapat padanya kecuali orang yang bermaksud mengumumkannya, juga tidak boleh dicabut rumputnya… .”(HR. Bukhari dan Muslim)
Di dalam al-Qur’an juga ditegaskan, kerusakan atau fasad dan perkataan yang memiliki pengertian kerusakan disebut sebanyak 49 kali. Hal ini menunjukkan betapa al-Qur’an sangat memperhatikan akan kerusakan dan kebinasaan alam yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia. Karena itulah, maka kewajibankan kita untuk beriman dan menjaga kelestarian lingkungan, Syeikh Imam Asy’ari menjelskan :
حُبُّ اْلوَطَنِ مِنَ اْلإِيْمَانِ
Artinya: Bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman.
Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhil hamd
Ma'âsyira al-Muslimîn Ra himakumullâh
Berbagai musibah yang terjadi dalam negeri kita ini terutama Covid-19 yang telah menelan banyak korban termasuk para dokter dan para medis.
Semuanya itu, disamping harus kita terima sebagai ujian dari Allah, namun juga merupakan peringatan keras dari-Nya. Sudah saat kita benar-benar berupaya melaksanakan ajaran agama secara kaffah dalam setiap aspek kehidupan. Siapakah di antara kita yang tidak tergetar hati melihat betapa banyaknya korban dari bencana tersebut? 
Semua adalah ujian. Semua adalah peringatan. Bila kita masih saja acuh tak acuh terhadap 

peringatan-Nya, masih memperturutkan hawa nafsu dan kesenangan dunia, tanpa mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat, amat mudah bagi Allah untuk menurunkan azab-Nya. 
Karena itu, di hari yang suci ini, apapun profesi dan status sosial kita, marilah samsa-sama membuka mata hati, dan menumbuhkan kesadaran bahwa hidup kita tidak hanya di dunia. Dunia adalah perantara dan bekal untuk akhirat. Mari manfaatkan segenap apa yang Allah berikan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Sudah saatnya kita meninggalkan seluruh perbuatan yang merugikan diri dan orang lain, yang merusak iman dan akhlakul-karimah. Seperti berbagai hal yang kita saksikan yang terjadi terngah-tengah kita.
Sudah saatnya kita meninggalkan sifat-sifat munafik dan fasiq. Mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, akan tetapi masih saja melakukan perbuatan-perbuatan yang dimurkai Allah. Takutlah kita, karena Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq.
Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhil hamd
Ma'âsyira al-Muslimîn Ra himakumullâh
Sesudah shalat ‘Id ini, kita sama-sama melaksanakan penyemblihan hewan kurban. Ibadah itu, di samping sebagai bentuk pengabdian dan rasa syukur kepada Allah dan kepedulian kepada kaum dhu’afa, juga memiliki makna simbolis. Selaku orang yang beriman haruslah setiap saat berusaha untuk mematikan sifat-sifat kebinatangan pada diri kita masing-masing. Seperti sifat sombong, serakah, 

individual, melakukan yang haram, menindas orang lain, arogans dan pergaulan bebas. 
Selain itu, ibadah qurban adalah manifestasi dari wujud ketulusan dari ketaatan kita untuk berjalan menuju ridha Allah.  Sebagaimana pengerian qurban itu sendiri yaitu, secara bahasa, Qurban yang berarti “pendekatan”. Secara istilah qurban dapat diartikan sabagai suatu tindakan  atau amal perbuatan yang menghasilkan kedekatan dan ridha dari Allah.Namun, walaupum qurban secara formal hanya dilaksanakan ketika hari raya idhul adha,  namun tuntutan untuk ber-qurban tetap berlaku sepanjang hayat dan hidup manusia. Karena yang dituntut dalam ber-qurban adalah sikap batin kita untuk mendekat kepada yang diridhai Allah. 
                       
Artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S Hajj {22}: 37

Dan juga Rasulullah saw menjelaskan “Minkulisya’ratihasanah” “Setiap helai bulu dari daging yang dikorbankan mengandung nilai kebaikan.

Ayat di atas menjelaskan bahwa darah dan daging qurban adalah pelambang dari kesucian jiwa. Oleh karena itulah, Islam mengatakan bahwa bukan darah dan daging itu sesungguhnya yang menjadi penilai Allah, tetapi niat dan motivasi pemberi qurban itulah yang menjadi penilaian Allah.
Di samping keikhlasan, kepatuhan dan ketaqwaan itu sebagai landasan dari ibadah qurban, ia juga sebagai pelambang dari prinsip keadilan sosial yang mendapat perhatian utama di dalam sistim sosial Islam. Daging qurban itu dibagikan-bagikan kepada fakir miskin sehingga terjadi persaudaraan yang kokoh antara sesama muslim. Islam mengajarkan agar setiap muslim memperhatikan penderitaan orang lain. Karena itu ibadah qurban dalam pengertian luas adalah pengorbanan apapun  yang mampu kita berikan untuk tegaknya keadilan sosial di muka bumi ini. 
Selanjutnya dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang dekat dengan Allah akan diberi kebaik-kebaikan  الْمُحْسِنِينَ وَبَشِّرِ  sebagaimana Firman Allah SWT:
              
Artinya;  Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak (1). Maka dirikanlahshalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (2). Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.(3) (Q.S  {108} : 1– 3)

Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhil hamd
Ma'âsyira al-Muslimîn Ra himakumullâh
Ayat di atas hendaklah menjadi renungan, sebagai bahan intropeksi buat kita. Di berbagai kondisi, kita sering melupakan Allah. Akan tetapi Allah tetap memberikan kenikmatan-Nya kepada kita. Akankah kita enggan untuk tetap mendekatkan diri kepada-Nya.
Kaum muslimin….! Kembali kita kepada keridhaan Allah! Rasakanlah kenikmatan iman ketika DIA ada di hati. Dan rasakan getaran pertolongan di setiap relung-relung kehidupan kita, niscaya Allah memberikan pertolongan yang akan menyelematkan kita dari segala mara bahaya dan penderitaan hidup serta multi krisis yang kita alami.
Jama’ah Id, rahimakumullah.
Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhil hamd
Terakhir, di hari yang penuh makna ini, marilah kita sama-sama membuka hati, dengan jiwa lapang untuk saling memaafkan kekeliruan saudara-saudara kita. Diminta atau tidak diminta, memaafkan kesalahan orang jauh lebih bermanfaat bagi diri kita, dibanding dengan terus memelihara rasa dendam, yang pada akhirnya rasa dendam tersebut akan merusak jiwa kita sendiri.
Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhil hamd
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.
Ya Allah, Tuhan kami yang maha ghafur, ampunilah segenap dosa-dosa kami, dosa orangtua kami, sanak saudara kami, anak-anak kami, guru-guru dan para pemimpin kami. Ampuni pula ya Allah, dosa-dosa dari saudara-saudara kami yang telah mendahului kami.
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Mengetahui, perlihatkanlah kepada kami, yang benar itu adalah benar, berilah kami kekuatan dan kesempatan untuk menegakkannya. Tunjukkan pula kepada kami yang bathil itu adalah bathil, berilah kami kekuatan dan kesempatan untuk menghancurkannya. 
Ya Allah, hanya kepada-Mulah kami mengabdi, beribadah dan sujud. Kepada-Mulah kami berlari dan menuju. Kami mendambakan rahmat-Mu, dan takut akan adzab-Mu. Sesungguhnya adzab-Mu yang sungguh-sungguh ditimpakan kepada kaum 
Kufar itu juga pasti akan ditimpakan kepada yang lain. 
Ya Allah, angkatlah penyakit bangsa kami ini terutama Pandemi Covid-19 sehingga kami bias melaksanakan tugas-tugas dan ibadah kami kepada-Mu Ya Allah.

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang