Lunturnya Adat Perempuan Minang di Lingkungan Kampus

Oleh Faradilla Riza Putri
         
Merujuk pada KBBI, masyarakat adat diartikan masyarakat yang hidup di suatu wilayah berdasarkan kesamaan leluhur, diatur oleh hukum adat atau lembaga adat, dan memiliki hak atas hasil dan pengelolaan wilayah mereka.

Salah satu adat yang masi kental terasa sekarang yaitu salah satunya adat MinangKabau. Adat Minangkabau dikenal sebagai pemakai sistem kekerabatan matrilinial yang dimana perempuan di dalam adat Minang Kabau memiliki peranan yang amat penting. Perampuan di minang mengacu kepada perempuan yang mempunyai budi pekerti yang baik, bertutur kata lemah lembut, sopan dan hormat pada sesama dan berpakaian yang soapan. Sifat ini tampak dalam ungkapan di minang yaitu " Budi baiak baso katuju, muluik manih kucindan murah. Dibagak urang ndak takuik, dikayo urang ndak arok, dicadiak urang ndak ajan, dirancak urang ndak ingin, di budi urang takanai. Sasuai bak bunyi pantun, Babelok babilin-bilin, dicapo tumbuahlah padi, dek elok urang tak ingin, dek baso luluahlah hati. Nan kuriak Lundi , nan merah sago, nan baiak budi, nan indah baso".

Itulah arti perempuan sebenarnya bagi adat Minangkabau, namun realitas masyarakat khususnya perempuan minang pada saat ini apalagi di lingkungan kampus menunjukkan kecendrungan untuk menjadi lebih modern dan melenceng dari arti perempuan minang yang sebenarnya. Perubahan zaman,apalagi di era globalisasi ini yang sangat pesat tentu saja turut memengaruhi tatanan perempuan minang hari ini di lingkungan kampus,entah itu dari segi bahasa atau pun dari cara berpakaian.Globalisasi adalah sesuatu yang ikut merasuki  kehidupan perempuan Minang bergaya atau bertindak tidak sesuai lagi dengan adat seorang perempuan Minang.


Tak adanya batasan lagi untuk melihat dan mengetahui budaya budaya lain pada Era Globalisai ini,menjadi salah satu momok terhadap tergerusnya adat dari seorang perempuan Minang. Di lingkungan kampus khususnya, banyaknya kebudayaan-kebudayaan lain yang masuk juga mengakibatkan tergerusnya adat dari seorang perempuan minang. Perempuan minang yang selalu di anggap mempunyai budi pekerti yang baik,berkata lemah lembut dan selalu sopan akhirnya hanya menjadi perkataan semata.

Seperti yang terlihat perempuan minang di lingkungan kampus pada hari ini juga sering terdengar menggunakan bahasa-bahasa kasar,berbicara dengan nada yang lebih tinggi dari pada orang yang lebih tua dan tidak berlaku sopan dan memakai pakaian yang tak sesuai dengan pengartian perempuan minang yang sesungguhnya. Di lingkungan kampus perempuan minang juga cenderung mengikuti teman-teman mereka dari adat lainnya,ataupun teman-teman mereka yang mereka anggap lebih modern atau kekinian,sedangkan adat seorang perempuan minang hanya dianggap ketinggalan jaman dan kuno.Bagi seorang perempuan minang seharusnya kita menjunjung tinggi adat seorang perempuan minang karna hal tersebut adalah cerminan dari adat Minangkabau.
Pembelajaran tentang adat dan istiadat di Minangkabau juga penting karena dari pembelajaran tersebut kita dapat mengetahui apa-apa saja adat yang ada di Minangkabau,khusus nya bagi perempuan. Pembelajaran BAM (Budaya Alam Minangkabau) yang sudah lama tidak di pelajari lagi di sekolah juga jadi penyebab tidak taunya masyarakat minang, khususnya perempuan yang tidak mengetahui adatnya sendiri.

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang