Rasa Malu


Oleh : M. Aksha Indra Dwipa 
Mahasiswa Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas 

Malu adalah sifat yang ada pada diri manusia. Malu menjadi salah satu sifat yang dapat dijadikan barometer untuk mengukur kualitas keimanan seseorang. Islam memerintahkan pemeluknya memiliki sifat malu karena dapat meningkatkan akhlak seseorang. Orang yang tidak memiliki sifat malu, akhlaknya akan rendah dan tidak mampu mengendalikan hawa nafsu.

Iman dan malu merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan Islam menempatkan malu sebagai bagian dari iman. Orang beriman pasti memiliki sifat malu, orang yang tidak memiliki malu berarti tidak ada iman dalam dirinya meskipun lidahnya menyatakan beriman. Rasulullah SAW bersabda, ''Iman itu lebih dari 70 atau 60 cabang, cabang iman tertinggi adalah mengucapkan 'La ilaha illallah', dan cabang iman terendah adalah membuang gangguan (duri) dari jalan, dan rasa malu merupakan cabang dari iman.'' (HR Bukhari-Muslim).

Sifat malu sangat penting ada pada diri manusia, karena melalui sifat ini seseorang dapat menahan diri dari perbuatan tercela, hina dan keji. Melalui sifat malu, seseorang akan berusaha mencari harta yang halal dan akan menyesal kalau ketinggalan melakukan kebaikan. Apabila telah hilang rasa malu pada diri manusia, maka perilakunya akan buruk. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah apabila hendak membinasakan seseorang, Dia akan mencabut rasa malu dari orang itu.

Ada tiga macam malu yang harus melekat pada seseorang. Petama, malu kepada diri sendiri ketika sedikit melakukan amal shaleh dan kebaikan dibandingkan orang lain. Malu ini akan mendorong kita untuk meningkatkan amal shaleh dan kebaikan kepada Allah dan kepada orang lain.

Kedua, malu kepada manusia. Ini penting karena kita dapat mengendalikan diri agar tidak melanggar ajaran agama, meskipun yang bersangkutan tidak memperoleh pahala sempurna lantaran malunya bukan karena Allah. Namun, malu seperti memberikan kebaikan baginya dari Allah karena ia terpelihara dari perbuatan dosa. Ketiga, malu karena Allah. Ini merupakan malu yang terbaik dan dapat membawa kebahagiaan hidup. Orang yang malu karena Allah, tidak akan berani melakukan kesalahan dan meningkatkan kewajiban selama meyakini Allah selalu mengawasinya.

Sungguh kesadaran untuk merasa malu kepada Allah itu sangat penting, baik bagi kita rakyat biasa maupun bagi pejabat atau penegak hukum. Sebagai manusia biasa hendaknya kita merasa malu kepada Allah karena belum sepenuhnya mampu untuk menaati perintah dan larangan-Nya, dan juga belum mampu berbuat banyak untuk kemajuan bangsa. Begitu juga dengan orang-orang besar yang mempunyai jabatan, sudah semestinya merasa malu kepada Allah karena banyak amanah rakyat yang belum dapat diwujudkan. Janji-janji sewaktu kampanye belum banyak dilaksanakan. Kebijakan pun masih banyak yang jauh rasa keadilan rakyat.

Sebagai hamba Allah SWT, sudah semestinya kita melakukan introspeksi diri, sudahkan kita memiliki sifat malu. Mengingat sifat malu penting sebagai benteng untuk memelihara akhlak dan sebagai sumber utama kebaikan. Maka sifat ini perlu dimiliki dan dipelihara dengan baik, karena dapat memlihara iman seseorang.

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang