Filosofi Dibalik Pakaian Adat Anak Daro di Minangkabau

Maurina Khairunissa Yusri dari Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Daerah Minangkabau Universitas Andalas



Masyarakat Minangkabau memiliki banyak adat dan tradisi yang berasal dari leluhur nenek moyang yang telah ada sejak dahulu kala, masyarakat Minangkabau yang hidup di daerah Sumatera Barat hingga kini pun masih menjalani tradisi tersebut. Masyarakat Minangkabau sudah memiliki tatanan kehidupan yang cukup baik sejak dulu nya, hingga hal kecil pun masyarakat Minangkabau sangat memperhatikannya. Hal-hal seperti norma-norma, nilai-nilai adat dan agama menjadi dasar dari tatanan kehidupan masyarakat Minangkabau sejak dulunya. Minangkabau bahkan mengatur bagaimana cara seseorang berbicara kepada orang lain, hal ini sangat menjadikan masyarakat Minangkabau sebagai masyarakat yang tau akan “raso jo pareso” yaitu rasa yang taku kepada Allah, rasa sopan dan malu kepada sesama manusia juga rasa segan dan saling menghargai sesama masyarakat. Tenggang rasa dalam Minangkabau sangat diperhatikan dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat di manapun berada.
Minangkabau tidak hanya memperhatikan cara berbicara dan tenggang rasa, tetapi hingga cara berpakaian pun telah di atur dengan sesuai norma-norma agama dan adat. Pakaian adat ini sesungguhnya merupakan symbol akan suatu daerah, dengan hanya melihat pakaian adat yang dikenanak maka seseorang akan mengetahui daerah asalnya. Pakaian khas Minangkabau sendiri juga memiliki makna masing-masingnya, hingga hal-hal kecil yang ada pada pakaian adat itu sendiri pun memilki makna dan arti. Pakaian adat juga memilki fungsi sebagai kesemarakan dalam kampung. Biasanya pada setiap ritual atau acara adat yang memiliki tujuan yang berbeda maka juga mengenakan pakaian yang berbeda pada tiap ritual atau acaranya. Pakaian adat di Minang juga memilki aturan tertentu dalam penggunaannya, seperti contohnya siapa yang memakainya dan bagaimana cara pakainya pun telah diatur.
Di Minangkabau ada beberapa jenis pakaian adat yang ada, seperti contohnya pakaian adat Bundo Kanduang yang biasa disebut dengan Limapapeh Rumah Gadang, Tingkuluak atau Tengkuluk yang merupakan penutup kepala yang menyerupai tanduk kerbau atau atap rumah gadang, Baju Batabue yaitu baju kurung yang memilki banyak taburan dari benang emas, dan ada pula pakaian adat pengantin Minangkabau. Dalam Minangkabau pengantin perempuan desebut dengan Anak Daro, sedangkan pengantin laki-laki disebut dengan Marapulai. Anak Daro di Minangkabau memilki baju yang unik dan memilki aturan pemakaiannya, pakaian pengantin ini sesuai warna adat Minangkabau yaitu merah, hitam dan kuning karena warna tersebut sarat simbolik bagi masyarakat minang. Pada setiap ritual adat, warna ini selalu ada, baik dalam ornamen ataupun busananya. Warna merah melambangkan keberanian dan kepahlawanan, Kuning mengandung arti kerajaan dan hitam mengandung makna kuasadan memilki ragam corak dan kelengkapan tata rias lainnya.
Unsur-unsur yang terdapat dalam pakaian anak daro di Minangkabau beruba atasan yang biasa disebut baju kurung yang terbuat dari kain beludru yang bersulam benang emas. Pada bagian bawahannya memakai kain sarung atau kodek dari kain songket. Dalam acara perkawinan di Minangkabau anak daro tidak hanya memakai pakaian baju kurung dan songket saja, tetapi juga menggunakan Suntiang. Suntiang sendiri diletakkan di atas kepala anak daro dengan berat 3,5 kg hingga suntiang dibuat dengan ukuran yang lebih kecil dan menjadi lebih ringan. Suntiang ini sendiri berbentuk setengah lingkaran yang memiliki ornament berbentuk flora dan fauna yang disusun secara melingkar di atas kepala anak daro. Jumlah sunting dan besarnya kipas yang terbentuk di kepala berbanding harmoni dengan 5 bentuk fisik si pengantin. Jenis perhiasan yang dipakai adalah corak sinar blong, bunga serunai, serai serumpun, mansi-mansi, kote-kote dengan motif ikan, kupu-kupu, burung merak dsb. Semua benda-benda kecil sunting tersebut dipasang bertingkat-tingkat melingkari kepala dari atas telinga kanan hingga atas telinga kiri. (Zakaria Ali, 1984:78)
Sebenarnya baju kurung tidak hanya dipakai pada saat ada upacara adat saja, tetapi juga dapat digunakan pada kehidupan sehari-hari di Minangkabau. Baju kurung untuk manghadiri acara adat dan kehidupan sehari-sehari tentu memiliki bentuk, warna dan corak yang berbeda, bahkan bahan yang digunakan juga tidak sama. Tidak hanya kegiatan yang dapat mempengaruhi pemakain baju kurung, tetapi usia seseorang di Minangkabau juga dapat mempengaruhi model baju kurung yang akan digunakan oleh seseorang. Jika baju kurung tersebut digunakan untuk kegiatan sehari-hari biasanya tidak menggunakan bahan beludru dan satin karna tidak cocok jika hanya untuk kegiatan sehari-hari dan juga bahan tersebut tidak nyaman jika digunakan sehari-hari di siang hari yang sangat terik dan terang benderang. Biasanya baju kurung yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari memiliki bahan yang tipis, nyaman dan tidak menerawang jika dilihat dengan mata, hal ini juga menunjukan sesuatu hal yang sederhana. Aksesoris yang dipilih juga tidak mencolok seperti menghadiri suatu kegiatan upacara adat yang biasanya menggunakan aksesoris yang banyak.
Pakaian tidak hanya berguna untuk melindungi tubuh dari bahaya sekitar yang akan melukai tubuh maupun dari cuaca yang sangat terik, tetapi pakaian juga sangat berfungsi sebagai sesuatu yang dapat menjaga kehormatan seseorang perempuan dengan menutupi aurat dan juga menjadi suatu keindahan. Orang minang di kenal sebagai orang yang paham akan adat dan agama, maka dari itu pakaian adat pun telah di tata sedemikian rupa agar dapat memenuhi norma dan nilai-nilai islam dan tidak hanya berguna untuk menutupi tubh saja. Oleh sebab itu perempuan Minang harus dapat menjaga adat istiadat yang telah ada sejak dahulu.

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang