Wakil Walikota Solok Reiner. Mamburansang Di RS M.Djamil Padang

Wakil Walikota Solok, Reinier Dt MangkutoAlam , "mamburansang"  (kesal dan marah), di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Muhammad Djamil, Kota Padang, Jumat pagi (10/4/2020). Hal itu terungkap dalam postingan akun facebook pribadinya, "Reinier Mulya" pada Sabtu (11/4/2020). Dalam postingan tersebut, Reinier menumpahkan kekecewaan terhadap pelayanan RS M Djamil Padang, khususnya perilaku salah satu dokter dalam memberikan informasi dan pelayanan. Saat itu, Reinier mengunjungi salah satu keluarganya yang sedang dirawat.
"Sebuah pengalaman pahit ketika terpaksa sedikit bertengkar dengan salah satu oknum dokter disebuah rumah sakit yang kurang tanggap dengan persoalan yang ada, kami saja Wakil Walikota sulit, apalagi rakyat kecil. Memang sudah ga rahasia umum lagi keluhan pelayanan yang tidak ramah, padahal psikologi mereka dalam keadaan tidak stabil, mereka butuh bantuan, mereka butuh perhatian, stres dll. Hal ini menurut hemat kami disebabkan oleh miskinnya jiwa. Dokter, perawat atau prediket sejenis tersebut merupakan jabatan profesi/ melalayani, harus punya jiwa melayani, welas asih, andai tidak punya, lebih baik tidak pilih job tersebut," tulisnya kecewa.
Saat dikonfirmasi kepada Reinier perihal kebenaran postingan di akun facebooknya itu, Reinier membenarkan apa yang menjadi kekecewaannya. Reinier juga menyatakan RS M Djamil memiliki pelayanan dan standar opersional prosedur (SOP), sehingga, tidak seharusnya seluruh warga yang sakit di RS M Djamil, dicurigai terdampak virus corona (Covid-19).


"Benar itu adalah akun facebook saya. Saya sendiri yang menulisnya. Kejadiannya di RS M Djamil Padang, Jumat (1/4/2020) pagi. Ketika itu, saya ada kunjungan kesana untuk membezuk ada yang meninggal. Dia masih warga Kota Padang, keluarga yang meninggal tidak ada terdampak Covid-19. Kalaupun ada dugaan itu, maka seharus bisa dijelaskan. Kalau memang itu kejadiannya, seharusnya pihak rumah sakit sudah mengantisipasi dari awal. Kan tidak mungkin, pasien-pasien itu dicampurkan dengan pasien yang lainnya. Dan dapat diberikan keterangan bahwa tiap orang yang meninggal disana meninggal tidak selalu akibat dari wabah Corona," terang Reinier.

Menurut Reinier, saat ini banyaknya informasi yang simpang siur di tengah-tengah masyarakat. Misalnya, setiap kejadian sakit, bahkan meninggalnya seseorang akbibat gejala mirip wabah virus korona, selalu menimbulkan keraguan. Seharusnya menyikapi hal tersebut harus dijawab dengan pemberian informasi yang jelas.
"Apalagi terkait kemalangan yang menimpa, hingga sampai meninggal dunia, harus jelas terpapar atau tidak terpapar Covid-19. Sehingga masyarakat jadi tenang, tanpa keragu-raguan dalam menerima informasi," ungkapnya.
Reinier menuturkan, kejadian kurang menyenangkan itu berawal ketika dirinya melakukan konfirmasi kepada salah satu dokter yang bertugas di RS M Djamil. Saat itu, Reinier ingin menanyakan status atau penyakit yang diderita pasien tersebut. Sebab, di tengah maraknya kasus Covid-19 di Kota Padang, Reinier tidak ingin masyarakat di sekitar tempat pasien tersebut resah. Namun, jawaban yang diterimanya dari sang dokter, tidak mengenakkan.



"Saya dokter disini! Katanya dengan nada yang tidak enak. Saya sangat miris mendengarnya. Jadi bayangkan saja, kami yang Wakil Walikota diperlakukan seperti itu. Apalagi kalau rakyat kecil. Jauh berbeda dari ekspektasi, dan harapan bahwa seharusnya dokter tidak berlaku seperti itu. Dokter adalah profesi, kalau tidak sanggup dengan jobdesk yang diterima, sebaiknya jangan masuk ke profesi tersebut. Bagi mereka yang telah memilih job itu, seharusnya siap berkorban sesuai dengan janji dan sumpah profesi yang mereka laksanakan. Karena itu pelayanan, dan negara sudah mengatur untuk hal itu," ujar Reinier.
Dengan kejadian tersebut, Reinier berharap kepada seluruh petugas medis yang ada, agar bisa kembali kepada khittahnya. Yakni menjadi pelayan masyarakat. Khususnya di Kota Solok, hal seperti itu tidak boleh terjadi. Terutama untuk fasilitas-fasilitas kesehatan di bawah naungan Pemko Solok.
"Pemko Solok, berani mengeluarkan kebijakan itu. Jika kita tidak bisa melakukan pembinaan, kita akan usulkan ke pemerintah pusat, atau ke pemangku kepentingan untuk melakukan pembinaan, bahkan melakukan pergantian di bidang tugasnya. Tentunya dengan dengan data-data yang lengkap dan jelas," tambahnya.

Bagi Reinier, pada kondisi saat ini, ketika ada yang meninggal, yang terpatri di otak masyarakat adalah akibat virus corona, padahal kadang masyarakat hanya meninggal biasa, tidak sebab wabah corona. Karena setiap yang meninggal itu belum tentu pasien positif Covid-19. Sehingga masyarakat jadi apatis dan tidak berani datang, apalagi melakukan pertologan kepada si korban.
"Ini adalah sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan, bayangkan kalau kejadian tersebut menimpa keluarga kita masing-masing. Anak kita, adik, atau keluarga kita. Kalau jelas meninggal karena Covid-19, tidak ada masalah, itu jelas sudah ada protokoler penanganannya. Tetapi kalau keragu-raguan yang mengakibatkan tidak mau saling peduli dengan sesama. Itu sangat berbahaya. Karena menurut saya, separuh kesembuhan pasien, adalah berkat layanan petugas medis," ujarnya.
"Saya tidak bicara orang, tetapi perilaku oknum dokter. Karena kalau menyimak dari informasi yang berkembang, tidak tertutup hanya untuk kasus yang saya alami sendiri ini saja. Karena kejadian ini akan menimbulkan penilaian yang tidak baik bagi dokter-dokter yang lain," tukuknya. (PN-

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang