UNCU DAN GESEKAN RABABNYA


Riskan Alfajri
Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas


Beliau adalah Samsir. Seorang seniman rabab tradisional Minangkabau. lahir di Koto Lalang, Kecamatan Lubuk Kilangan, Padang, Sumatera Barat. Di kesehariannya, ia kerap disapa dengan panggilan uncu. Ketika ditanya kapan ia lahir, beliau tidak mengetahuinya, beliau mengatakan  kalau  ia tidak mengingatnya, atau mungkin tdak bertanya dan diberi tahu oleh orang tuanya dulu. Beliau hanya mengetahui umurnya, ia mengatakan bahwasanya sekarang beliau sudah berumur 65 tahun. Berkemungkinan Uncu lahir antara tahun 1954/1955. Karana keadaan ekonomi keluarga yang lemah, beliau hanya bersekolah di bangku pendidikan dasar, yang pada zaman dulunya disebut dengan Sekolah Rakyat. Setelah itu Uncu sudah bekerja sebagai buruh atau tukang. Sekarang beliau tinggal di simpang Gaduik, Lubuk Kilangan, ia tinggal di tanah milik kaumnya serta sebagai penjaga tanah kaum yang masih ada.

pada tahun 1973 Uncu menikah dengan istrinya, saat itu ia masih berprofesi sebagai kuli bangunan. pada pernikahan ini uncu dibarkahi dengan empat orang buah hati, namun naas, seorang anaknya meninggal dunia dan menyisakan tiga orang buah hati. Mungking karena terjadi perselisihan rumah tangga. Diawal tahun 2000-an uncu resmi bercerai dengan istrinya. Tahun 2002 Beliau menikah lagi yang ketika itu uncu masih berprofesi sebagai kuli bangunan. Di pernikahan yang keduai ini, uncu diberkahi empat orang buah hati. Anak pertama di pernikahan yang kedua ini berumur 17 tahun,sedangkan sibungsu berumur 8 tahun. Pada tahun 2003 kejadian yang tak terduga terjadi,uncu terjatuh dari atas atap rumah tempat ia bekerja, tulang lututnya bergeser dan tak bisa berjalan selama hampir setahun. pada tahun 2004 kakinya yang mulai pulih, uncu memutuskan untuk tidak bekerja menjadi kuli lagi, dikarenakan kondisi kakinya yang tidak memungkinkan. Selang beberapa waktu Uncu mencari nafkah di yang tidak memungkinkan. Selang beberapa waktu Uncu mencari nafkah di pertamina Bandar Buat dan sesekali di pertamina Solok,  sebagai seniman jalanan. dengan keahlian memainkan alat musik rabab yang ia miliki serta pandai dalam berdendang merupakan modal utama agar bisa bisa mendapat rezeki di setiap harinya. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, hanya dengan barabab uncu bisa menyekolahkan anaknya sampai bangku Sekolah Menengah Atas, dan sekarang uncu menghidupi keluarga dan tiga anaknya yang masih bersekolah. Uncu biasanya berangkat menjelang siang menuju pertamina Bandar Buat tempat ia mencari nafkah, penghasilan yang didapatkan uncu juga beragam kadang Rp. 100.000 lebih, dan kadang hanya Rp. 50.000 dan bahkan ada lebih kecil lagi. Dari hasil itulah Uncu memenuhi segala kebutuhan hariannya. Jika cuaca buruk atau hujan deras, maka ia hanya mencukupi kebutuhan hari ini dari uang sisa pada pendapatan hari sebelumya. Namun ia tetap semangat dalam menjalankan kehidupan. Terkadang ia juga diundang bersama grup rababnya yang bernama "Sinar Padang" untuk mengisi sebuah acara, dari sana pula lah penghasilan lain yang ia terima. biasanya setiap pertunjukan rabab beliau dan keempat orang anggota grup lainnya dibayar Rp. 1.500.000 untuk satu malam pertunjukan rabab.

Pada awalnya Samsir belajar bermain rabab sejak ia masih kecil, ia belajar dengan cara berguru yang di ajari oleh pamannya dan  teman pamannya. yang bernama Samsudin dan Madin. Disela kesehariannya sebagai kuli bangunan pada waktu itu, ia selalu menyempatkan diri untuk belajar bermain rabab. Kesenanganya kepada rabab bermula ketika ia sering melihat pamannya  (Samsudin) bermain rabab setiap hari, dengan rasa penasaran yang tinggi, iapun semakin semangat dalam belajar rabab. Dalam belajar rabab, Samsir harus menghabiskan waktu bertahun tahun bahkan melebihi waktu 5 tahun agar paham  dengan  rabab dan segala komponen  yang ada di dalamnya. dalam bermain rabab juga terdapat dendang yang harus kita ketahui agar menyatukan perminan rabab dan dendang yang ada, setiap pemain rabab pasti mengetahui berbagai macam dendang di dalamnya. Kedua hal inilah yang dapat menghabiskan waktu pertahun tahun dalam proses pembelajaran. Uncu berkata kalau kepandaian  yang kita miliki hanya dapat dinilai hebat oleh orang lain. Jika kita mengakui kalau kita hebat maka itu adalah perbuatan yang sombong. untuk itu uncu berkata supaya terus mengembangkan potensi diri dan terus belajar agar mendapat apresiasi atau pujian oleh orang lain.

Seiring perkembangan zaman, banyak musik modern yang bermunculan. Seperti orgen tunggal yang merajalela dilingkungan  masyarakat  zaman sekarang. Uncu menyikapi bahwa sebagian besar generasi zaman sekarang yang lebih suka dengan orgen tunggal dibandingkan  dengan kesenian trsdisional. Padahal kesenian tradisional  adalah  suatu hal yang menjadi  jati diri dan ciri khas masyarakat Minangkabau. Uncu mengatakan, kebanyakan seniman yang ada saat sekarang adalah para veteran yang umurnya sudah tua, walaupun ada yang muda, jumlahnya sangatlah sedikit. Bahkan banyak dari veteran tersebut yang sudah menimggal termasuk paman yang menjadi gurunya itupun sudah meninggal juga. Beliau sangat  senang jika generasi muda zaman sekarang menghidupkan kembali kesenian yang kurang diminati tersebut. Dengan baerbagai cara seperti berguru yang ia lakukan dalam belajar rabab.

Walaupun sekarang kita berada dizaman yang modern, orang orang yang peduli dengan kesenianpun masih ada, tak hanya dari kalangan yang sudah tua saja. contohnya pada saat ini. Uncu memiliki murid yang ingin belajar rabab dengannya. Dalam belajar seorang calon murid harus memenuhi syarat yang diberikan oleh gurunya, kata uncu itu berguna untuk melihat keseriusan murid yang akan dilatihnya itu.

Tidak hanya bermain rabab, uncu juga menjadi pelatih randai dan silat pada zaman dahulunya. Ia pernah beberapa kali mendapat piagam penghargaan dari Dinas kebudayaan sebagai pelatih silat dan randai. Uncu juga sering tampil di luar kota Padang seperti di Solok, Pariaman dan daerah di Sumbar lainnya di dalam pertunjukan rabab bersama anggota grup rababnya.

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang