Tradisi Marondang Boreh dalam Upacara Aqiqah di Koto Nan Godang Payakumbuh

Suci Rahmadania Putri
Mahasiswa Sastra Minagkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas


Kelahiran anak adalah sebuah anugerah yang diberikan Allah SWT terhadap setiap manusia, kelahiran menjadi suatu bentuk kuasa ilahi dalam menciptakan masyarakat baru yang memiliki peran penting nantinya didalam kehidupan masyarakat. Setiap kelahiran anak dalam masyarakat memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat tersebut, sebab kelahiran adalah bentuk perpanjangan generasi antara satu manusia dengan manusia baru lainnya. Disetiap masyarakat kelahiran juga memiliki makna dalam yang dapat menimbulkan beberapa tradisi dalam masyarakat itu sendiri. Banyak tradisi yang tercipta dari proses kelahiran tersebut, bahkan sebelum kelahiran proses tradisi sudah berjalan seperti tradisi sewaktu kehamilan bahkan nantinya tradisi ketika kelahiran tersebut. Salah satu tradisi dalam kelahiran adalah tradisi marondang boreh di Koto Nan Gadang Payakumbuh.
       
Di Minangkabau setiap peristiwa dalam kehidupan masyarakat sebagian besar dilakukan dengan upacara atau tradisi yang dilakukan secara adat istiadat sesuai norma adat yang berlaku. Seperti upacara Aqiqah, Turun Mandi, Pengangkatan Penghulu, Menikah atau perkawinan, Kematian dan peristiwa-peristiwa lainnya. Keseluruhannya dilakukan secara adat dan ketentuan agama yang sesuai dengan falsafah Minangkabau ‘adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah’. Hal ini tentunya sudah menjelaskan bahwa setiap hal di Minangkabau harus sejalan dengan adat dan agama, baik itu berbentuk upacara adat maupun tradisi adat serta kegiatan kebudayaan. Tradisi merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun oleh sekelompok masyarakat yang tinggal di daerah tempat tinggal masyarakat itu sendiri. (Esten, 1999: 110)

Tradisi marondang boreh dalam upacara aqiqah di Koto Nan Gadang Payakumbuh adalah sebuah bentuk syukur terhadap penyambutan kelahiran anak ke dunia ini yang diberikan Allah SWT. Tradisi marondang boreh dalam upacara aqiqah ini bertujuan untuk pengenalan dunia terhadap anak yang baru lahir dan juga sebagai rasa syukur atas keselamatan dalam proses kelahiran anak tersebut dan juga sebagai pelaksanaan terhadap sunah yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW, yang mana aqiqah ini termasuk kedalam sunah mu’akat. Aqiqah identik dengan prosesi atau rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan pemotongan seperti pemotongan rambut anak serta pemotongan hewan pada saat pemberian nama anak. Tradisi marondang boreh pada upacara aqiqah ini masih dilakukan oleh masyarakat Koto Nan Gadang sampai sekarang ini. Berdasarkan syariat agama tradisi ini tidak bertentangan sama sekali dengan syariat Islam. Biasanya penyelenggaraan tradisi ini dilakukan sore hari pada saat upacara aqiqah dilakukan.

Tradisi marondang boreh ini dilakukan oleh pihak bapak yaitu ‘induak bako anak’(saudara perempuan ayah) mulai dari proses pembuatan boreh rondang sampai pada proses pembagiannya saat upacara aqiqah tersebu. Hal ini dikarenakan pada saat tradisi ini dilakukan masyarakat akan melihat bagaimana adat atau bangso bapaknya sebab ‘bako’ adalah saudara perempuan dari bapak anak, maksud  ‘bangso’ ini adalah masyarakat akan melihat bapaknya mengetahui adat Koto Nan Gadang tersebut. Dalam kehidupan bermasyarakat, tradisi ini nantinyajuga memiliki fungsi-fungsi yang ada dalam masyarakat dan tradisi ini juga memiliki tujuan serta makna yang belum diketahui masyarakat banyak. Pemilihan bahan dalam tradisi marondang boreh adalah kegiatan yang wajib dilakukan sebelum melaksanakan dan membuat rondnag boreh sebab dalam adat yang berlaku bahan-bahan yang diperlukan harus bahan yang berkualitas baik dan bagus, sebab masyarakat akan melihat bagaimana kesiapan dan sampai mana pihak ‘olek’ mengetahui akan adat yang berlaku dalam melihat bahan yang dipergunakan. Adapun bahan yang digunakan diantaranya beras pulut, pisang, tebu hitam, dan kelapa.


Kegiatan pembuatan rondang boreh yang akan dipergunakan dalam tradisi marondang boreh dalam upacara aqiqah di Koto Nan Gadang biasanya dilakukan di rumah bako atau saudara perempuan dari ibu anak tersebut, kegiatan ini juga akan dibantu oleh masyarakat sekitar bako dan juga kaum-kaum sepersukuan dari bako anak yang akan di rondang borehkan tersebut. Kegiatan membuat rondang boreh ini biasanya dilakukan pada pagi hari, bahan-bahan yang digunakan akan diolah satu per satu dan akan disusun dengan ketentuan yang berlaku dalam tradisi marondang boreh tersebut.

Tujuan dari tradisi marondnag boreh ini adalah untuk pengakuan masyarakat terhadap anak yang baru lahir. Masyarakat Koto Nan Gadang memiliki tradisi untuk pengakuan terhadap adat istiadat Koto Nan Gadang baik itu masyarakat yang baru datang dari luar maupun individu yang baru dilahirkan di Koto Nan Gadang. Dengan adanya upacara marondnag boreh ini anak berhak memiliki titel sebagai masyarakat Koto Nan Gadang, maka apabila nantinya anak bergaul dengan masyarakat lainnya ia akan ditunjuk ajari orang-orang sekitar kampung. Selain itu didalam tradisi marondnag boreh ini memiliki maksud dan tujuan lainnya yaitu memperkenalkan kepada masyarakat bahwa bapak dari anak mengerti dan menghargai adat istiadat Koto Nan Gadang dengan marondnag borehkan untuk anaknya, maka hutang bapak serta bako dan keluarga bapaknya yang lain lunas secara adat istiadat Koto Nan Gadang terhadap anaknya.

Tradisi marondang boreh ini memiliki banyak fungsi di masyarakat Koto Nan Gadang, baik bagi keluarga sang anak yang dirondang borehkan maupun untuk masyarakat dari nagari Koto Nan Gadang tersebut. Fungsi dari tradisi marondang boreh tersebut diantaranya,

1. memenuhi tuntutan adat agar anak di akui kedudukannya serta untuk melihat bangso dari bapak anak yang di rondnag borehkan, yang mana bangso maksudnya adalah sejauh mana bapak dari anak tersebut paham akan adat istiadat dan pengetahuan akan tradisi serta kewajiaban sebagai masyarakat Koto Nan Gadang Payakumbuh.

2. mendo’akan anak

3. sebagai penghilang bala/ panulak bala

4. sebagai tempat silaturahmi

        Dalam tradisi marondang boreh di Koto Nan Gadang Payakumbuh ini juga terdapat nilai-nilai yang menguatkan tradisi tersebut. Yang mana nilai-nilai dalam tradisi marondang boreh tersebut seperti nilai sosial, nilai moral, nilai pendidikan, dan nilai budaya.

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang