TERUSIR


M.Satria Erlangga jurusan sastra minangkabau universitas andalas


Samsul mengelap keringat di baju putihnya yang lusuh, hari ini amat panas dan tidak ada lagi uang yang tersisa untuk  membeli minum guna mendinginkan badan. Hari ini Samsul akan melakukan tes untuk bekerja disebuah kantor pemerintahan di kota, berbekal ijazah S1 nya Samsul yakin ia akan lulus karena  kepandaiannya semasa sekolah dan kuliah. Disaat-saat yang susah seperti itu pun, Siti tetap menemani Samsul dengan setulus hati. Siti adalah teman, kekasih sekaligus istri Samsul, mulai dari semasa sekolah hingga Samsul menyelesaikan skripsinya, Siti lah yang selalu menemani ia disaat senang maupun susah. 
Dua tahun sudah Samsul lulus dari dunia perkuliahan dan menjadikan Siti sebagai istrinya. Lima bulan setelah wisuda, ia langsung pergi ke kediaman Siti dan meminta izin untuk menikahinya. keluarga Siti yang memiliki keadaan ekonomi menengah kebawah, dengan senang hati mengizinkan anaknya untuk di pinang Samsul, walaupun Samsul belum memiliki pekerjaan dan hanya seorang lulusan S1 tanpa pengalaman, namun orang tua Siti mengizinkan hal tersebut  karena Siti yang hanya lulusan SMA jika ia tak dinikahkan apa yang harus ia kerjakan, karena mencari pekerjaan pun zaman sekarang amatlah sulit. 
Sudah dua tahun menjalani kehidupan rumah tangga, segala macam pekerjaan telah dilakukan Samsul untuk menghidupi keluarga kecilnya. Hingga akhirnya ia mengikuti tes kerja, berharap jika lulus akan mendapat pekerjaan dan gaji yang cukup untuk keluarganya. Seminggu setelah melakukan tes tersebut, akhirnya Samsul dinyatakan lulus dan ditempatkan tugas dinas ke luar kota.
Awalnya Samsul ragu untuk meninggalkan istrinya di rumah sendirian, apalagi ia hanya bisa pulang sebulan sekali agar tidak menghabiskan uang banyak untuk trasportasi pulang, karena rumah dan tempat kerja tersebut terbilang cukup jauh. Namun Siti mendukung suaminya untuk kerja di luar kota dan meyakinkan Samsul bahwa ia akan baik-baik saja dirumah sendirian, karena hal tersebut Samsul langsung beragkat ke kota tersebut untuk bekerja.
Semenjak Samsul kerja diluar kota kurang lebih 5 tahun, ekonomi keluarga mereka makin membaik, Samsul pun sudah mendapatkan posisi yang cukup tinggi di kantor tersebut, ia rutin mengirim uang untuk istrinya di rumah dan dengan kepandaian Siti dalam menyimpan uang, mereka memiliki tabungan yang cukup untuk kedepannya. Namun sayang, keluarga mereka belum juga dikaruniai seorang anak walaupun sudah 5 tahun menikah.
Dunia pekerjaan di kota amatlah tidak mudah, banyak persaingan dan macam-macam jenis permasalahan yang harus Samsul selesaikan, serta pertemuan yang harus ia ikuti. Status pasangan pun mulai dipertanyakan ketika ada pertemuan dengan beberapa penjabat lain. Ketika penjabat lain mulai membangga-banggakan status mereka serta pasangan mereka, disitulah Samsul merasa terpojok karena istrinya hanya anak dari penjual sayur di kampung dan bisa dibilang berasal dari keluarga berekonomi bawah.
Awalnya Samsul tidak terlalu mendengarkan apa kata orang lain atau bagaimana keadaan orang lain, namun lama-kelamaan ia menjadi iri dan mulai membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Apalagi sudah 5 tahun ia menikah namun belum juga memiliki anak, hal tersebut tambah membuat Samsul berfikiran hal-hal yang buruk.
Jabatan dan uang sudah mulai membutakan Samsul, pernah terlintas dibenaknya penyesalan karena sudah menikahi Siti yang berstatus rendah dan tidak sepadan dengan statusnya saat ini. Sampai akhirnya ia jarang pulang untuk mengunjungi Siti, karena merasa malas dan memilih tetap tinggal di kota menyelesaikan pekerjaannya yang banyak.
Samsul makin jarang pulang ke kampungnya, yang biasanya sekali sebulan, kini hanya sekali dalam 3 bulan. Hal tersebut membuat Siti takut jarak akan membuat hubungannya bertambah renggang dengan suaminya. Karena Siti merasa Samsul mulai berangsur-angsur berubah, sikapnya menjadi dingin. Ketika Siti mencoba menelpon Samsul untuk sekedar menanyakan kesehatan suaminya atau untuk melepas rindu, Samsul selalu tidak mempunyai waktu untuk menelpon lebih lama, baru saja Siti ingin menanyakan kabar, Samsul akan selalu mengatakan bahwa ia sedang sibuk dan tidak dapat di ganggu, karena hal tersebut Siti mulai cemas dengan keadaan suaminya.
Sudah dua bulan Samsul tidak pulang ke kampungnya, akhirnya ia pun pulang. Siti yang sudah lama menanti kepulangan suami tercintanya amat senang dan tidak bisa jauh dari Samsul sedikitpun. 
“Siti, ada yang perlu mas sampaikan” Samsul menyesap kopi hitamnya yang baru saja dihidangkan Siti di meja.
“Apa itu mas? Kata kan saja.” Siti tersenyum, meletakkan nampan dan duduk di samping suaminya.
“begini, sebenarnya ini hal yang sudah lama ingin mas sampaikan. Hmm, bagaimana jika mas menikah lagi?”
Pertanyaan Samsul bagaikan sambaran petir di siang bolong, Siti terguncang dan tidak tau respon apa yang harus ia berikan atas pertanyaan tadi.
“Tapi mas, mengapa? Apakah kau bosan denganku?” tanpa sadar Siti telah menitikkan air mata, ia tak mengerti apa yang dipikirkan Samsul.
“Atau karena kita belum memiliki anak? Kita bisa mengusahakan hal tersebut. Tolong jangan menikah lagi.” Kini tangisan Siti pecah, ia tidak mampu lagi membendung rasa sedihnya. Suami yang sudah lama tidak pulang dan berharap merindukan dirinya, malah membawa kabar buruk yang tidak terbayangkan oleh siti.
Samsul hanya diam, ego telah membutakan dirinya. Keputusannya telah bulat, ia ingin menikah lagi.
Setelah percekcokkan tersebut, Samsul mengemasi barangnya dan kembali ke kota. Sejak hari itu Siti mengurung dirinya, ia tidak ingin makan dan segala aktivitas yang ia biasa lakukan tidak ia lakukan lagi, bahkan pekarangan di depan rumah pun sudah di penuhi gulma. Rina selaku teman Siti dari kecil mulai cemas dengan keadaan temannya tersebut, dan memutuskan untuk menemui Samsul dikota karena Rina juga sedang memiliki urusan di kota yang sama dengan tempat Samsul bekerja.
Setelah menempuh beberapa jam dengan mobil sampailah ia di kantor tempat Samsul bekerja, setelah menanyakan keberadaan Samsul ke resepsionis, Rina pun langsung pergi ke ruangan Samsul. Samsul awalnya agak terkejut dan malas untuk meladeni teman istrinya tersebut, karena ia tau apa hal yang akan dikatakan Rina, namun Samsul tetap menerima kedatangan Rina di ruangannya.
“Kedatangan Rina tidak mengganggu bukan?” Rina sudah duduk di kursi namun Samsul masih sibuk dengan pekerjaannya di laptop, dan Samsul pun memberhentikan pekerjaannya dan melihat ke arah Rina.
“eh tidak Rin, omong-omong ada perlu apa ya kesini?”
“mmm. Jadi gini mas, mungkin mas udah tau apa yang mau Rina katakan. Ini soal Siti, dari hari ke hari ia semakin kurus, dan ia seperti tidak punya semangat hidup. Bagaimana jika mas kunjungi Siti mas? Kasihan dia seperti itu”
Samsul menghela nafas, ia sudah menduga apa tujuan Rina datang ke kantornya, dan mulai mencari alasan agar Rina cepat pergi dari ruangannya.
“Keputusan mas sudah bulat Rin, bilang sama Siti jangan khawatir. Mas juga belum bisa untuk temui Siti saat ini, jadi kamu saja yang meyampaikan. Oh iya pernikahannya minggu depan” Samsul mengeluarkan undangan dari laci meja kerjanya dan menyodorkannya ke Rina. Rina tak tau lagi apa yang harus ia katakan, ia pun pergi tanpa mengambil undangan tersebut dan menutup pintu dengan keras.
Rina telah sampai di depan pintu rumah Siti, setelah seminggu di kota ia baru sempat pulang dan menemui Siti. Sebenarnya Rina ragu akan mengatakan kabar tentang Samsul atau tidak, karena pastinya Siti akan terguncang dan sedih. Namun Siti tetap harus tau tentang pernikahan Suaminya tersebut, karena bagaimanapun Siti masih menjadi Istri sah Samsul.
Rina sudah mengetok pintu Siti berkali-kali namun tidak ada jawaban, ia pun memanggil salah satu warga dan mencoba mendobrak pintu rumah Siti. Setelah mencoba beberapa kali akhirnya pintu rumah Siti terbuka. Rumahnya amat berantakan, terlihat jelas jika sudah lama tidak di bersihkan. Rina semakin khawatir dengan keadaan Siti dan mulai menggeledah semua sudut ruangan di rumah itu. Akhinya Rina menemukan Siti di kamar mandi, terlihat genangan darah dan sebuah pisau yang tergeletak di samping tubuh Siti. Siti mencoba untuk bunuh diri.
Melihat keadaan Siti yang tak sadarkan diri, Rina langsung menyuruh warga untuk mengangkut Siti kedalam mobilnya untuk di bawa kerumah sakit dan langsung melesat pergi. Rina membawa mobilnya dengan cepat dan gelisah dengan keadaan Siti yang terbaring di kursi belakang. Berharap jika Siti akan baik-baik saja. Namun setibanya dirumah sakit, dokter telah memastikan jika Siti sudah meninggal 2 jam yang lalu. 
Rina menyadarkan dirinya, kabar meninggalnya Siti masih membuatnya terguncang. Dengan keadaan yang sedang menangis ia menelpon Samsul, walaupun Rina tau jika hari ini Samsul sedang melaksanakan pernikahannya, namun Rina tak bisa menahan untuk memberitahukan kabar tersebut. 
“Halo mas?” Rina menelpon dengan tersedu-sedu membuat Samsul ingin tau apa yang terjadi.
“ Iya Rin, ada apa? Saya lagi ada acara, jadi tak bisa lama-lama” 
“ Siti bunuh diri, tadi aku kerumah mu dan Siti sudah tak bisa diselamatkan.”
Telpon tersebut hening beberapa saat dan mati. Samsul terguncang, sebentar lagi akad nikah dan ia tak bisa melanjutkan pernikahan tersebut. Ia pun pulang ke kampung saat itu juga membawa sedikit uang dan  meninggalkan semua hal dan hartanya di kota. Namun apapun usaha Samsul ia tetap tidak akan bisa membuat Siti terbangun kembali.
Sebulan setelah Siti meninggal, Samsul masih saja terpuruk dalam kesedihannya, ia meninggalkan hartanya dan pekerjaannya di kota dan hidup miskin kembali dikampung. Rasa duka yang masih pekat membuat Samsul kehilangan kesehatan jiwanya, ia mulai berbicara sendiri seakan sedang berbicara dengan alm istrinya. Ia pergi ke jalanan dan mengganggu anak-anak yang sedang bermain. Rina yang melihat samsul yang kejiwaannya terganggu pun hanya bisa berdiam dan membiarkan hal tersebut. Karena Rina tau jika karma itu selalu ada.

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang