Sosok Chairil Anwar Dibalik Puisi yang Melegenda

Oleh : Suci Rahmadania Putri
Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya,

 Momentum Hari Puisi Nasionalyang diperingati tanggal 28 April 1949 sampai sekarang, Hari Puisi Nasional ini awal mulanya diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengandjaran dan Kebudayaan (Djakarta, 1953).Hari Puisi Nasional ini merupakan hari memperingati puisi-puisi yang telah melegenda dari seorang penyair terkemuka di Indonesia. Hari Puisi Nasional ini juga diperingati untuk mengenang wafatnya seorang penyair terkemuka di Indonesia yaitu Chairil Anwar yang dijuluki “Si Binatang Jalang” melalui karyanya yang berjudul “Aku”.
 Nama lengkapnya yaitu Chairil Anwar lahir di Medan tanggal 26 Juli 1922, beliau merupakan seorang penyair terkemuka Indonesia yang  berdarah Minagkabau. Beliau merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha, kedua orang tuanya berasal dari daerah Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Beliau masih memiki ikatan keluarga dengan Perdana Menteri pertama Indonesia, yaitu Sutan Sjahrir, namun Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apapun tercermin dari kepribadian orang tuanya. Beliau lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (Jakarta) bersama dengan ibunya pada tahun 1940 dimana dia mulai menggeluti dunia Sastra. Sebagai anak tuggal orang tuanya selalu memanjakannya dari kepribadian orang tuanya. Beliau mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), namun saat usianya 18 tahun beliau tidak bersekolah lagi.  Beliau mengatakan sejak usia 15 tahun beliau telah bertekad menjadi seorang seniman. 
Nama Chairil Anwar mulai terkenal di dunia Sastra setelah pemuatan Puisinya yang berjudul Nisan pada tahun 1942. Hamper semua puisi- puisi yang beliau tulis merujuk pada kematian. Puisi-puisinya beredar diatas kertas murah selama masa pendiudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945. Karya-karya beliau juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman, Rusia, dan Spanyol, diantaranya “ Chairil Anwar: Selected poems oleh Burton Raffael dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963). Puisi hasil karya Chairil Anwar sempat dituduh sebagai hasil plagiarisme oleh H.B Jassin. Dalam tulisannya pada mimbar Indonesia yang berjudul Karya Asli,
Saduran, dan Plagiat ia membahas tentang kemiripan puisi Karawang-Bekasi dengan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeish. Namun, meskipun mirip tetap ada rasa Chairil di dalamnya sedangkan sajak MacLeish hanyalah katalisator penciptaan.

        Vitalitas puitis beliau tidak pernah diimbangi dengan kondisi fisiknya, sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Beliau meninggal dalam usia muda di Rumah Sakir CBZ(sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo) Jakarta pada tanggal 28 April 1949. Penyebab kematian beliau tidak di ketahui pasti, namun menurut dugaan lebih karena penyakit TBC. Selama hidupnya beliau telah menulis sekitar 94 karya, termasuk 70 puisi, kebanyakan tidak di publikasikan. Puisi terakhir beliau berjudul Cemara Menderai Sampai Jauh, ditulis pada tahun 1949, semua tulisannya baik yang asli, modifikasi, atau yang diduga dijiplak, di kompilasi dalam tiga buku yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat. Buku-buku tersebut berjudul Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus(1949), dan Tiga Menguak Takdir(1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).
        Pergaulannya luas, dari golongan tingkat bawah sampai tingkat teratas seperti mantan pemimpin RI yang pertama Soekarno-Hatta. Dikalangan seniman beliau bergaul dengan penyair, penyanyi, pelukis, dramawan/dramawati, dan sebagainya. Dalam lingkaran pergaulan beliau juga bergaul dengan seniman budayawan bentukan Jepang (Kheimin Bunka Shidoso). Baik atau tidaknya beliau semasa hidupnya banyak pelajaran yang sesungguhnya dapat di petik oleh generasi milenial zaman sekarang. Beliau memiliki sifat yang patut untuk ditiru dan dicontoh yaitu,
1. sayang ibu
        Pada tahun 1943 beliau pernah ditahan dan dipenjarakan polisi, dirinya lantas menulis surat pendek untuk ibunya yang diberikan kepada HB Jassin. Surat pendek beliau tersebut merupakan jeritan seorang anak yang sayang kepada ibunya.
2. pejuang cinta
       Bukan rahasia lagi jika beliau memiliki banyak tambatan hati, setidaknya ada 8 orang wanita yang pernah singgah dihatinya yang bahkan menginspirasinya untuk membuat puisi.
3. multilingual
Meski tak beres dakam pendidikannya beliau ternyata seorang multilingual alias menguasai lebih dari satu bahasa, selain bahasa Indonesia bahasa lain yang beliau kuasai yaitu baha Inggris, Belanda, dan Jerman.
4. seniman berdikari
          Sempat memiliki pekerjaan tetap, namun beliau memilih untuk menjadi manusia merdeka yang bebas berkarya. Tak tergantung siapa pun membuat beliau dinobatkan sebagai sosok seniman berdikari yang tidak bisa dipesan kekuasaan. Meski selalu hidup dalam himpitan ekonomi namun honornya menulis puisi bisa menutupi kekurangannya.
5. urakan yang cinta tanah air
       Meski dikenal memiliki gaya hidup yang bohemian namun kecintaan beliau kepada bangsanya yang tidak perlu diragukan lagi. Bahkan dirinya turut andil dalam membuat slogan propaganda kemerdekaan Republik Indonesia pada masa penjajahan Jepang.

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang