KESABARAN DAN KETABAHAN GURU HONORER

Oleh: Retna Lisa ( Mahasiswa Sastra Minangkabau Fib Unand)

Siapa yang tidak kenal dengan istilah honorer? Menurut kamus besar bahasa Indonesia atau KBBI honorer diartikan sebagai : bersifat kehormatan atau bersifat menerima honorarium ( bukan gaji tetap ) guru/ pegawai. Honor atau honorarium memiliki arti upah yang diterima setelah melakukan pekerjaan.
Profesi seorang guru adalah profesi yang sangat mulia. Tidak ada profesi yang dapat menyaingi profesi seorang guru, karena diatas pundaknya ia serahkan tugas untuk mengajar para murid-muridnya agar menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak baik. Dan dari gurulah siswa akan mendapat pendidikan nilai-nilai kehidupan dan menjadikannya seseorang yang mempunyai jiwa dan kepribadian yang luhur, bertanggungjawab, serta menghargai sesamanya.
Pada zaman sekarang menjadi guru honorer sangatlah tidak mudah, masalah utama yang timbul karena banyaknya persaingan, minat orang terhadap guru honorer tersebut. Selain banyaknya persaingan, upah yang diterima guru honorer tidaklah besar bisa diperkirakan kurang lebih Rp. 300.000 rupiah perbulannya. Pertanyaannya adalah? Bayangkan saja dengan pendapatan segitu jika dibandingkan dengan kehidupan sekarang apakah mencukupi? 
Tentu saja tidak, untuk membiayai diri sendiri saja bahkan belum cukup apalagi kalau yang sudah berkeluarga. Dalam status kepegawaian, profesi guru terbagi atas dua yaitu: guru tetap dan guru tidak tetap, perbedaan antara keduanya tidak hanya sebatas status kepegawaian tetapi juga dalam segi upah. Padahal jika dilihat dari pekerjaannya guru honorer dengan guru tetap tidak ada perbedaan. Bagaimana bisa dikatakan tidak ada perbedaan? Guru honorer juga dipercaya mendidik, mengajar, serta membimbing peserta didiknya, bukankan pekerjaan guru yang sudah PNS juga demikian?
Menjadi guru honorer ini kadang gampang-gampang sulit, hanya kesabaran dan ketabahanlah yang membuat guru honorer itu bertahan. Terkadang masyarakat menilai honorer adalah sebagai guru bantu-bantu guru yang sudah tetap (PNS) saja, padahal jika kita mengetahui bagaimana perasaan yang dirasakan jadi guru honorer ini pastinya sangat memprihatinkan. Karena pekerjaan yang dilakukan tidak mendapat upah yang setimpal selama ini. Tidak hanya masalah upah yang diterima tidak mencukupi untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, terkadang dalam waktu 3 bulan mereka belum menerima upah atas kerja kerasnya tersebut. Miris memang, tapi itulah kenyataan yang terjadi saat ini.
Dari tahun 2019 sampai 2020 jumlah guru honorer semakin bertambah banyak, bagaimana tidak setiap tahunnya pasti sarjana pendidikan di berbagai Universitas banyak melahirkan calon-calon penerus. Banyak saat ini guru yang berstatus sebagai guru honorer, contohnya saja di padang saat ini Intan seorang guru honorer yang mengajar di SMP Negeri 9 padang yang baru memulai mengabdi pada januari 2019 kurang lebih setahun yang lalu sampai sekarang. Beliau mengatakan berdasarkan hari-hari yang diluangkan untuk mengajar tidak ada begitu banyak keluhan, guru yang tidak honor ( PNS ) sangat menghargainya dan saling membantu. Upah yang ia terima masih dari dana bos jadi dihitung perjam, perjamnya Rp.30.000 dan ia tidak menerima rutin tiap bulannya melainkan 3 bulan sekali berkisaran Rp. 950.000 rupiah kadang mengajarpun tidak berdasarkan bidang ilmu yang dikuasai. 
Namun hal demikian tidak menyurutkan semangatnya menjadi guru honorer walaupun hanya dibayar seadaanya atau bisa dikatakan tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Baginya menjadi seorang guru adalah suatu kebanggaan walaupun hanya sebagai guru honorer. Ia tidak memikirkan upah yang ia terima yang penting ia bisa mengajar dengan baik dan ilmu yang ia dapat bisa bermanfaat bagi orang lain.
Kesabaran dan ketabahan menjadi seorang guru memang dilihat dari cara guru mengatasi berbagai sikap anak-anak yang bemacam-macam. Seorang guru mempunyai ikatan batin terhadap anak ajarnya, akan semakin kuat ikatan batin tersebut jika seorang guru mengajar dengan banyak pertemuan tatap muka di depan murid-muridnya dikelas. Semakin banyak seorang guru mengajar dikelas maka semakin dekatlah ikatan antara guru dengan muridnya tersebut. Layaknya seperti anak kandung dengan orang tuanya. 
Kenapa seseorang yang berprofesi menjadi guru honorer bisa bertahan lama mengabdi di suatu sekolah, padahal upah yang diterimanya paspasan, bahkan tidak mencukupi? Mungkin ada sebagian orang yang mengharapkan uang, ada juga yang bersabar agar bisa menjadi PNS setelah lama mengabdikan dirinya di suatu sekolah. Tapi tidak semua guru honorer yang berfikiran seperti itu. Baginya mengajar suatu faktor kebanggaan dan membuat guru tersebut bertahan lebih lama karena berhasil mengajar murid-muridnya dan mampu bersaing dengan sekolah-sekolah menengah atas. Hal tersebut akan menambah semangat guru untuk mengabdi lebih lama lagi.
Jika dipikirkan memang sangat pantas dan layak guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Ia tidak memikirkan apa yang diterima yang penting baginya mengajar dan melihat kesuksesan anak didiknya itu sudah membuat suatu kebanggaan layaknya keberhasilan anak sendiri.

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang