BADANTAM


Oleh: Reza Ramadani, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Unand
  Badantam adalah Sebuah Tradisi Penghadangan Dana Masyarakat Piaman (Pariaman, Tiku dan Padang Pariaman) disaat perhelatan perkawinan anak kemenakan maupun sanak familinya. Dulu, biasanya hanya untuk keluarga perempuan saja, karena ada tradisi bajapuik kepada pihak laki-laki. Sehingga membutuhkan biaya. Badantam juga sebagai bentuk persatuan masyarakat atas nama korong dan desa yang disepakati secara bersama dengan mangundang segala masyarakat desa untuk hadir ke rumah sanak saudara yang akan melakukan acara alek perkawinan. Sejarah waktu pelaksanaan prosesi rujukan di dalam sejarahnya tradisi badantam ini sangat sulit untuk di telusuri, hal itu disebabkan karena tidak adanya sumber tertulis yang bisa dijadikan bukti.
"Dantam ini sudah ada sejak tahun 1945an yang pada dahulunya karena nenek moyang kita bermasalah.Karena kita ini ada yang kaya dan yang miskin, jadi ketika yang di miskin baralek tentu dia tidak bisa mengangkat beban berat basingguluang batu. Maka dari itu diadakanlah dantam diatas nama menurut korong dan desa. Jadi, diundanglah masyarakat banyak datang ke rumahnya. Seperti ada yang mengadakan suatu pahelatan perkawinan anak kamanakan untuk menjeput (membeli) marapulai, tentu dia tidak mampu mencari dana. Maka dari itu, diadakanlah dantam untuk meringankan beban yang berat itu. Seperti kata orang dahulu "tambah-tambah beli kunyik, tambah-tambah beli cabe". Maka dari itulah kita tolong dengan bekerja sama untuk masyarakat kita.”
Acara badantam ini dimulai pada malam hari, sesudah acara resepsi pernikahan sekitar pukul 20.00 Wib, sebelum anak daro diantar manjalang ke rumah pihak marapulai. Ketika itu segala anggota kaluarga, karabat, dan masyarakat sudah berkumpul, dan acara badantam itu dimulai. Badantam ini diadakan setiap kali acara alek perkawinan di Pariaman, pada umumnya. Sebelum badantam dimulai, ada tahap-tahapnya yang harus diketahui yaitu pada awalnya acara badantam ini dilakukan pada malam hari tepatnya sesudah resepsi pernikahan. Segala pengurus yang terdiri dari beberapa orang yang telah dipercayai masyarakat di kampong itu yaitu kapalo mudo, alim ulama, cadiak pandai, urang tuo, kepala desa serta pemuda dan masyarakat yang telah berkumpul di rumah silang (tuan rumah).
 Daftar isi Sejarah Waktu pelaksanaan Badantam ini diadakan setiap kali acara alek perkawinan di Pariaman pada umumnya. Masyarakat desa Kampung Kandang senantiasa ikut serta berpartisipasi untuk mengumpulkan dana bantuan dari segala kerabat secara kekeluargaan. Maksud dari acara badantam yang dilakukan pada malam hari, pada waktu sholat isya adalah, disebabkan karena masyarakat Kampung Kandang pada siang hari mereka bertani, berkebun, membuat batu bata dan berdagang. Sehingga waktu yang tepat yang telah disepakati adalah pada malam hari. Badantam berguna untuk menyatukan masyarakat dalam membantu meringankan beban masyarakat lainnya yang mengadakan alek perkawinan di Pariaman. Badantam tumbuh dan berkembang sebagai suatu proses dari sebuah tradisi yang digariskan secara turun temurun. Masyarakat menyadari keberadaan badantam sabagai faktor utama dalam palaksanaan alek. Sebelum badantam dilaksanakan, ada beberapa tahapan yang harus diketahui yaitu pada awalnya acara badantam ini dilakukan pada malam hari tepatnya sesudah resepsi pernikahan.
 Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tata cara pelaksanaan badantam yaitu: 1.Berkumpul dan Berunding di rumah Sipangka 
2.Penyerahan dana kepada Sipangka
3.Kesepakatan mamak rumah dengan Sumandonya
4.Makan bersama sebagai wujud kehormatan dan rasa terimakasih
5.Penutup

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang