Antara Covid-19 dan Mati di Tangan Tuhan

OPINI-Diharapkan kita jangan menjadi agen penyebaran Covid-19 di kampung sendiri terutama di Nagari Kapar, Luhak Nan Duo, Pasbar, Sumbar.

Jangan sampai berbekal kelalaian dan kelengahan, justru jadi bala besar bagi diri kita sendiri, keluarga mapun masyarakat sekitar kita.

Gejala orang terkena Covid-19 itu kelihatannya sehat-sehat saja. Istilah ekstrim saya "seperti orang tidak berdosa". Tapi, berapa hari kemuadian, luluhlah seluruh tubuhnya. Sama seperti menyimpan mangga muda.

Banyak masyarakat bertahan dengan istilah "Mati di Tangan Tuhan". Saya jawab itu benar.

Di tengah wabah Covid-19 yang begitu deras, saya ingin ajak masyarakat berfikir tentang "Mati di Tangan Tuhan" kata inilah menjadi penguat masyarakat untuk tidak mengindahkan aturan pemerintah maupun aturan agama.

Segala virus termasuk Covid-19 itu dengan izin tuhan gak dia bisa hidup. Pasti jawabannya "ia". Jadi, kalau seandainya kita terkena Virus Covid-19 maaf kata kita mati, kita mati karena tuhan gak??
Jawabannya masih sama "ia".

Dengan jawaban seperti itu, kita tidak punya alasan lagi untuk menyepelekan wabah Covid-19 ini, alasan kita terkunci.

Mengutip dari Prof. Dr. H. Salmadanis, MA, Wabah Covid-19 itu tidak dapat hilang bahkan bisa jadi bertambah jika kita tidak mau membentengi diri dengan 3 hal:

Pertama, Sholat.
Dengan membiasakan diri senantiasa sholat 5 waktu ditambah sholat sunnat lainnya dapat menjauhkan diri dari wabah Covid-19. Baik sholat berjamaah bersama keluarga maupun sholat sendirian.

Secara medis, orang sholat itu bersih. Bersih pakaian, badan dan tempat.

Menurut kacamata agama, jauh sebelum ilmu medis lahir mengatakan bahwa orang sholat itu bersih. Agama perintahkan thaharah (suci). Atinya orang yang sholat itu suci.

Bukankah kesucian dan kebersihan itu merupakan lawan berat dari Wabah Covid-19.?

Kedua, Zikir.
Memahami zikir dalam artian luas berarti Covid-19 ini ada karena izinnya Allah. Zikir dengan lisan, zikir dengan hati dan berzikir dengan akal. Zikir yang paling afdhal adalah la ilaha illallah. Dalam hadis Qudsi Allah Swt berfiman: La ilaha illallah adalah benteng-Ku, siapa saja yang masuk dalam benteng-Ku, dia aman dari adzab-Ku (HR. at-Tirmidzi). Maka perbanyaklah tahlil agar diberi keamanan dari berbagai bahaya.
Bukankah dwngan zikir hati menjadi tenan??
Jawabannya "ia".
Dengan berzikir hati menjadi tenang. QS. (Ar-Ra'du:28).
Dengan ketenangan stabilitas imunitas terjaga.
Wabah Covid-19 hanya ditakuti oleh orang yang senantiasa memiliki imunitas tinggi/terjaga.

Ketiga, Sholawat.
Bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW merupakan pahala besar. Bukankan agama telah memberitahu bahwa orang yang tidak mau bersholawat ketika mendengar nama nabi merupakan orang yang super kikir. Bersholawat berarti kita akui bahwa kita senantiasa mentaati rasul. Bukankah pada zaman nabi juga pernah terjadi pada zaman nabi.

Seperti yang dikutip pada tagar.id wabah penyakit sudah pernah terjadi di zaman Rasulullah yaitu penyakit kusta atau lepra yang dapat menular dengan cepat dan juga menyebabkan kematian. Dalam menghadapi wabah ini, Nabi mengajarkan kepada sahabat untuk tidak memasuki wilayah yang tengah terjangkit, dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Seperti dalam hadis yang diriwayatkan Abdurrahman bin Auf.

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

“Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya” (HR. Muslim)

Rasulullah juga memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.

‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

Artinya: "Jangan kamu terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta." (HR Bukhari).

Hadis di atas mengajari kita senantiasa taati rasul. Belajar cara managemen rasul dalam penanganan wabah pada saat itu.

Dari tiga keterangan di atas, ditarik kesimpulan bahwa wabah Covid-19 tidak akan hilang jika kita tidak mau sholat, zikir dan sholawat. Dengan mengamalkan ketiga aspek tersebut berarti kita siap dan sungguh merelakan penghambaan diri kita kepada Allah SWT sang pencipta wabah.

Sebagai bentuk ikhtiar lqkukan Social Distancing guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Sementara waktu hindari membentuk perkumpulan di kedai maupun tempat lainnya.

Kapar, 17 April 2020
Oleh: Fernando Yudistira, S. Sos., M. Sos
(Sekjen DPMAYP/Pengamat Dawah)

1 comment:

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang