SITI MANGGOPOH, SINGA BETINA RANAH MINANG YANG PATUT DICONTOH

Oleh : Haditsa Vania (Mahasiswa Sastra Minangkabau Fib Unand)

Di Sumatera barat terdapat beberapa pahlawan yang sudah diberi gelar pahlawan nasional.

Diantaranya adalah, Moh . Hatta, Agus Salim, Hamka dan Rasuna Said. Namun sebenarnya, ada banyak pahlawan perempuan yang berasal dari Minangkabau seperti Roehana Koeddoes, Rahmah El Yunusyyiah dan Siti Manggopoh. Kali ini kita akan membahas tuntas kisah Siti
Manggopoh.


Nama lengkapnya Siti Manggopoh, dilahirkan di Manggopoh, desa kecil di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada bulan Mei 1880.

Nama Manggopoh dilekatkan pada dirinya, karena keberaniannya maju dalam perang Manggopoh. Manggopoh adalah nama negerinya. Masyarakat Manggopoh biasa memanggilnya “Mandeh Siti Manggopoh”. Ia dijuluki “Singa Betina” dari Ranah Minang, karena ia tak pernah diam ketika daerahnya diperlakukan semena-semena oleh kolonial.

Siti Manggopoh merupakan anak dari pasangan Sutan Turiak dan Mak Kipap. Ia merupakan bungsu dari enam saudara serta perempuan satu-satunya. Siti memiliki 5 saudara laki-laki, kelima kakak laki-laki Siti pun selalu mengusung Siti kemana-mana. Ia membawa Siti ke pasar, ke kedai, ke sawah, dan bahkan ke gelanggang persilatan. Siti pun pernah bermain sangat jauh dari kenagarian Manggopoh, bahkan sampai ke daerah Tiku, Pariaman. Tak hanya itu, ketika kakaknya belajar mengaji ke surau, Siti juga diajak untuk belajar mengaji, bapasambahan dan juga persilatan. Siti memiliki kebebasan, Ia membangun dirinya secara fisik dan non fisik. Inilah yang menyebabkan Siti berani maju ke medan perang untuk melawan penjajahan Belanda di negerinya.

Dalam buku Perempuan-perempuan Pengukir Sejarah, Mulyono Atmosiswartoputra diceritakan awal mula kemarahan Mande Siti, ketika ia tahu Peraturan Pajak di tanah Minangkabau pada awal Maret 1908, diganti menjadi Peraturan Tanam Paksa terhadap rakyat.

Pada tahun 1908, Siti melakukan perlawanan terhadap kebijakan ekonomi Belanda melalui pajak uang (belasting). Peraturan belasting dianggap bertentangan dengan adat Minangkabau, karena tanah adalah kepunyaan komunal atau kaum di Minangkabau, Pada tanggal 16 Juni 1908, Belanda sangat kewalahan menghadapi tokoh perempuan Minangkabau ini, sehingga meminta bantuan kepada tentara Belanda yang berada di luar nagari Manggopoh. Perang ini lah yang dinamakan dengan Perang Belasting.

Dengan siasat yang diatur sedemikian rupa oleh Siti, dia dan pasukannya berhasil menewaskan 53 orang serdadu penjaga benteng. Siti Manggopoh termasuk perempuan yang mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain. Ia mampu memanfaatkan naluri keperempuanannya secara cerdas untuk mencari informasi tentang kekuatan Belanda tanpa
hanyut dibuai rayuan mereka.

Ia pernah mengalami mengalami konflik batin ketika akan mengadakan penyerbuan ke benteng Belanda.

Konflik batin tersebut adalah antara rasa keibuan yang dalam terhadap anaknya yang erat menyusu di satu pihak dan panggilan jiwa untuk melepaskan rakyat dari  kezaliman Belanda di pihak lain. Namun, ia segera keluar dari sana dengan memenangkan  panggilan jiwanya untuk membantu rakyat. Tanggung jawabnya sebagai ibu dilaksanakan kembali setelah melakukan penyerangan. Bahkan anaknya, Delima, dia bawa melarikan diri ke hutan selama 17 hari dan selanjutnya dibawa serta ketika ia ditangkap dan dipenjara 14 bulan di Lubuk Basung, Agam, 16 bulan di Pariamaan, dan 12 bulan di Padang. Mungkin karena anaknya masih kecil atau karena alasan lainnya, akhirnya Siti Manggopoh dibebaskan.
Namun suaminya dibuang ke Manado.
Pada Perang Kamang dan Perang Manggopoh membuat luka mendalam bagi penjajah Belanda.
Untuk mengenang perang tersebut, mereka membangun tugu bertuliskan
“OPSTANT KAMANG MANGGOPOH”. Tugu yang terletak di Bukittinggi ini menjadi saksi sejarah yang membuktikan keberanian masyarakat Kamang dan Manggopoh, yang di dalamnya ada seorang perempuan bernama Siti. Hingga pada akhir hayatnya, Siti meninggal pada tanggal 20 Agustus 1965 pada usia 85 tahun. Di Gasan Gadang, Padang Pariaman.
Jenazah Siti dimakamkan dengan upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Lolong, Padang Sebagai generasi penerus bangsa, kita sepatutnya meneladani karakter dari Siti Manggopoh yang baik untuk dicontoh seperti berikut ini :
1. Kegigihannya dalam melawan Belanda Ini terbukti dengan Belanda sangat kewalahan menghadapi Siti Manggopoh pada masa itu. Siti Manggopoh juga tercatat pernah melakukan perlawanan terhadap kebijakan ekonomi Belanda melalui pajak uang (belasting).
2. Ia merupakan perempuan yang mandiri dan tidak tergantung
kepada orang lain Ia memanfaatkan naluri keperempuanannya secara cerdas untuk mencari informasi tentang kekuatan Belanda tanpa hanyut dibuai rayuan mereka.
3. Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi Tanggung jawabnya sebagai ibu dilaksanakan kembali setelah melakukan penyerangan terhadap Belanda.
4. Ia dijuluki dengan “Singa Betina” dari Ranah Minang
Beliau dijuluki itu karena keberaniannya melawan Belanda dan ia tak pernah diam ketika daerahnya diperlakukan semena-mena oleh kolonial.

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang