Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Jerman Gagal Tiru Teror Christchurch


Para anggota kelompok sayap kanan yang ditangkap di Jerman merencanakan pembantaian skala besar terhadap jamaah masjid-masjid di negara tersebut. Serangan yang mereka rencanakan meniru penembakan massal di dua masjid di Christcurch, Selandia Baru, tahun lalu.


Ada 12 orang dari kelompok sayap kanan yang ditangkap polisi Jerman pekan lalu. Penangkapan itu sebagai bagian dari investigasi anti-terorisme besar-besaran.

Beberapa anggota kelompok itu telah mendirikan organisasi teroris. Ironisnya, seorang perwira polisi menjadi salah satu dari 12 orang yang ditangkap. Mereka sudah ditahan polisi federal sejak Jumat pekan lalu. 

Rencana pembantaian jamaah masjid itu diungkap majalah Der Spiegel dan surat kabar Bild, Senin (17/2/2020). Kelompok sayap kanan, menurut laporan tersebut, ingin menyerang tempat-tempat ibadah Muslim selama salat berlangsung.

Mereka berencana untuk meniru serangan di Christchurch di Selandia Baru di mana 51 jamaah dibantai di dua masjid oleh pria Australia dengan senjata semi-otomatis.

Tersangka pemimpin kelompok sayap kanan, yang diketahui oleh pihak berwenang dan telah diobservasi, telah merinci rencananya pada pertemuan yang diselenggarakan dengan kaki tangannya pekan lalu.

Menurut laporan kedua media tersebut, penyelidik polisi mengetahui tentang rencana pembantaian itu dari seseorang yang telah menyusup ke dalam kelompok.
Penyelidik meluncurkan penggerebekan untuk menentukan apakah para tersangka sudah memiliki senjata atau persediaan lain yang dapat digunakan dalam serangan.

Pihak berwenang Jerman telah mengalihkan perhatian pada adegan ekstrem kanan bawah tanah negara itu sejak pembunuhan politisi lokal konservatif Walter Luebcke Juni lalu dan serangan bulan Oktober terhadap sebuah sinagoga di kota Halle.

Source: Sindonews

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang