Kelapa Sawit Indonesia Di Minati Australia dan Negara-negara Pasifik



Jurnalistsumbar.com-----------Bali-Para pengusaha di Australia dan negara-negara di kawasan Pasifik yang dikoordinir oleh Kementerian Luar Negeri Australia benar-benar menunjukan minat terhadap kelapa sawit Indonesia.
Setelah menggelar pertemuan pertama di Perth, Australia, pada tahun 2017, kali ini pertemuan kedua digelar di Nusa Dua, Bali, mulai Senin-Selasa (6-7/8/2018). Baik pertemuan pertama maupun kedua ini diberi nama Goverment and Business Forum (GABF).
Ketua Bidang Ketenagakerjaan GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Sumarjono Saragih yang turut hadir di pertemuan itu saat dihubungi melalui handphone, Selasa (7/8/2018), menyebutkan pertemuan GABF 2017 dan 2018 merupakan berkah bagi Indonesia.
Sebab, kata Sumarjono, berbeda dengan negara-negara di benua Eropa, negara Australia yang memiliki pengaruh kuat di negara-negara Pasifik, justru menjadi salahsatu negara barat yang relatif bersahabat dengan sawit.
“Setahu saya nih, pemerintah Australia nyaris tidak pernah menyerang dan tidak pernah menunjukan sikap antisawit Indonesia, sebagaimana dilakukan negara-negara barat di Eropa,” ujar Sumarjono.
Kata Sumarjono, bukti dari sikap bersahabat Australia dan negara-negara Pasifik ditunjukan dari jumlah pengusaha yang dibawa mencapai sekitar 100 orang.
“Begitu juga dengan delegasi pemerintah Australia dan negara-negara di Pasifik sekitar 50 orang,” papar Sumarjono.
Ia menyebutkan, pemerintah Indonesia pun menyambut baik GABF. Ini ditunjukan dengan kehadiran Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marshudi, mantan Ketua Umum GAPKI yang kini menjadi Penasehat, yakni Joefly Joesoef Bahroeny, Sekretaris Umum GAPKI Laskhmi Sidharta, Sumarjono Saragih, dan lainnya.
Kata Sumarjono, pertemuan GABF bukan pertemuan basa-basi. Sebab, GABF justru membuat aksi nyata dan inisiatif dengan melakukan promosi sekaligus usulan perbaikan dalam industri sawit nasional.
Sumarjono mengatakan, forum ini dipimpin secara co-chair pengusaha Andrew Forrest (Australia) dan Eddy Sariatmadja (Indonesia). “Kalau Pak Eddy Sariatmadja ini dikenal publik sebagai pemilik stasiun SCTV,” papar Sumarjono.
Tujuan utama GABF, ucap Sumarjono, adalah mendorong praktek bisnis yang bertanggungjawab (responsible business), termasuk penghargaan terhadap para pekerja di industri perkebunan sawit.
Ia melihat persoalan ketenagakerjaan sangat penting mengingat sawit salahsatu sektor usaha yang melibatkan 19 juta orang, termasuk kaum buruh, yang mendapat kesempatan untuk berbagi.
Pihaknya sendiri dalam pertemuan itu memaparkan praktek baik (responsible business) yang dilakukan para pengusaha yang menjadi anggota GAPKI.
Ia sendiri diberikan kesempatan memaparkan kerjasama yang telah dilakukan GAPKI dan ILO (International Labour Organisation), sebuah lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bidang ketenagakerjaan.
Kata Sumarjono, inisiatif kerjasama GAPKI-ILO untuk mempromosikan ‘decent work’ atau kerja layak ke para pengusaha dan petani sawit dan rantai pasok menjadi langkah maju dan telah dicontoh.
Di situ ia menyampaikan keyakinannya kalau upaya kerjasama GAPKI-ILO ini akan mendorong semua pelaku usaha sawit ambil bagian dalam promosi dan implementasi bisnis yang bertanggungjawab.
“Dan, puji Tuhan, paparan kami mendapat apresiasi dari forum pertemuan,” ucap Sumarjono. Ia juga mengungkapkan, pada pertemuan Selasa, kedua belah pihak menyampaikan komitmen dan usulan kebijakan yang terkait kerjasama bisnis antara kedua belah pihak(rel/adek)

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang