Buah Segar Kelapa Sawit Terbaik Dunia, Petani Malah Menjerit




Jurnalistsumbar.com-------------------Pasbar —Petani sawit di kabupaten Pasaman Barat masih menjerit. Pasalnya harga sawit saat ini masih dihargai Rp 700 -Rp 800 per kilogramnya.
Meskipun sebelumnya pada kamis (26/7) bulan lalu DPRD telah mengadakan Rapat Gabungan Komisi dengan mengundang para investor (PKS),Supplayer, KUD,ORMAS PEKAT IB PASBAR dan LSM WAMPEL serta Asisten II dan Dinas Perkebunan Pasbar.

Menurut Arifin, (45) salah seorang Pekebun Kelapa Sawit  swadaya di Luhak Nan Duo, "kalau rapat kemarin hanya sekedar basa-basi dan tidak ada tindak lanjut maupun pengawalan dalam pelaksanaannya, apalagi tanpa ada sanksi dari keputusan tersebut, itu berarti DPRD dan Pemkab masih belum berani tegas membela kami petani swadaya ini...", kesal Arifin. 
Sementara Amat, salah seorang Pekebun asal Sei Aua, juga menyesalkan dengan tidak adanya kepastian dari kesimpulan Rapat Gabungan tersebut.

Menurutnya, jeritan petani ini hendaknya sudah menjadi perhatian besar bagi Bupati Pasbar dan DPRD seharusnya juga seudah bisa meminta sejauh mana Bupati serius membela rakyatnya, " adakah Bupati pernah memerintahkan dinas terkait  dalam hal ini khususnya Dinas Perkebunan (Disbun) Pasaman Barat untuk melakukan survei langsung ke masyarakat". Ujarnya.

Pada umumnya masyarakat pekebun Kelapa Sawit di Pasbar meminta kepada Kepala Daerah agar melaksanakan Permintan No 1 Tahun 2018 yang mana disitu dinyatakan bahwa ketetapan hasil Rapat Harga adalah untuk semua Petani pekebun Kelapa Sawit, menurut masyarakat, bahwa yang membedakan adalah Rendemen, tahun tanam atau mutu bibit, jadi bukan membedakan adanya kelompok, KUD maupun binaan.

Sebab setahu mereka, Pengusaha membeli TBS masyarakat dari pemegang SPB semua TBS tersebut di jual ke PKS, tanpa ada perbedaan ini TBS kelompok,ini TBS KUD, ini TBS binaan...
Seharusnya sudah kewajiban Pemerintah dalam hal ini Disbun untuk melakukan sosialisasi dan pembinaan.

"Makanya Bupati perintahkan itu Disbun untuk mensurvei langsung ke lapangan dengan mendatangi masyarakat untuk melakukan sosialisasi dan binaan". pinta Rahim mewakili masyarakatnya di Koto Balingkar.

Masyarakat hanya meminta kepada para investor, Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang ada di Kabupaten Pasbar agar mematuhi harga yang telah ditetapkan, kalau tidak mohon Pemkab agar bertegas-tegas untuk menindak mereka, bila perlu tinjau syarat dan peraturan tentang mendirikan PKS. Atau bila perlu yang tidak ada lahannya untuk segera diambil alih menjadi PKS milik PEMKAB dalam bentuk BUMD.

Dengan demikian harapan masyarakat, agar pihak Pemerintah dapat menetralisir harga dengan memegang kendali sebagai Penguasa negeri mekar ini, bukan penguasa yang di atur oleh pengusahá yang menggali hasil bumi kita.

 Anjloknya harga TBS sawit tersebut tentunya sangat merugikan petani. Sebab mayoritas masyarakat Pasbar umumnya petani sawit menggantungkan kebutuhan keluarganya dari hasil kebun sawit.

Ketika hal ini dikonfirmasi,ke Kadisbun Ir.H.Alfitrin Noven MSi, ia membenarkan jika saat ini harga sawit turun kisaran Rp 700 -Rp.800 per kilo. Bahkan Noven menyesalkan tindakan para pemegang kendali perusahaan (si pemegang keputusan) yang tidak mau hadir saat ada undangan dari Pemerintah untuk menghadiri Rapat dan pertemuan dalam membahas perkembangan perkebunan Kelapa Sawit t masuk dalam penentuan harga, sebab menurutnya kalau para Direksi selalu mengutus Manager atau setingkat staf yang tidak bisa mengambil keputusan itu sama saja pihak Pengusaha melecehkan Penguasa buminmekar ini,Dalyus K. saat dikonfirmasi tentang anjloknya harga TBS masyarakat ini, di sela-sela Rapat Gabungan kemarin menyatakan bahwa DPRD Pasbar  akan serius dan akan menj bdaklanjuti hasil Pertemuan ini pada tingkat Rapat Pimpinan yang di per luar di bulan Agustus 2018.

Menurutnya dalam waktu dekat terkait murahnya harga sawit saat ini, ia akan koordinasi dengan semua pihak untuk bertindak dan akan berusaha meninjau perusahaan sawit  (PKS) yang ada di Kabupaten Pasbar. 

Diakuinya memang dari bulan ke bulan harga sawit cenderung turun, dan menurutnya ini adalah hanya permainan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, untuk itu ia khawatir dampaknya akan sangat mempengaruhi masyarakat pekebun sawit.

“Kita akan koordinasikan dengan semua pihak  untuk agenda pertemuan mendatang, agar pihak direksisi pemegang keputusan untuk dapat hadir langsung, harapan kita, jangan lagi  mereka mengutus manager atau staf yang hanya hadir untuk duduk diam dan dengar, sementara kalau diminta keputusan, mereka menjawab "kami tidak berwenang untuk memutuskan...! ini kan namanya mereka hanya sekedar menggali hasil bumi kita tanpa mau duduk bersama untuk membahas kesejahteraan masyarakat Pasbar Kesal Dalyus K.

Menurutnya,ia khawatir apabila harga sawit terjun bebas seperti ini petani sawit akan berahli fungsi dan mungkin bisa saja lahan mereka di tanami jagung atau pohon karet dan tanaman yang menghasilkan lainnya.
Untuk itu Dalyus berharap pada pertemuan yang diperluas bulan Agustus Minggu Ke dua nanti ada solusi, dan bila tidak ada juga kemauan baik dari pihak Pengusaha, maka kita akan segera bentuk PANSUS tandasnya . (Zoelnasti)

No comments

Powered by Blogger.
PT. Piliang Intermaya Media Mengucapkan: Selamat datang di Website Jurnalissumbar.id, Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga anda senang!! Tertanda Pemred: Falsanar Arsul Piliang